Saturday , 7 December 2019
Home » Headline » NPCI Jabar Bantah Adanya Pemotongan Bonus

NPCI Jabar Bantah Adanya Pemotongan Bonus

    Jajaran pengurus NPCI Jabar melakukan klarifikasi terkait isu pemotongan bonus atlet Peparnas XV/2016, di Kantor NPCI Jabar, Jumat (17/2). (jabartoday/avila dwiputra)

JABARTODAY.COM – BANDUNG Sejumlah atlet kontingen Jawa Barat yang berlaga Pekan Paralimpik Nasional XV/2016 mengeluhkan adanya pemotongan bonus mencapai 25 persen.

Ketua Kelompok Penyelamat National Paralympic Commitee Indonesia Jawa Barat Yudi Yusfar mengungkapkan, pemotongan dilakukan oleh pengurus secara masif, bahkan sejak tahap persiapan pada Januari 2016 mulai dari uang intensif. “Yang dapat medali, 25 persen. Itu nanti dibagi dua untuk pengurus provinsi dan cabang. Justru tidak jelas untuk apa, kemudian mekanisme juga dalam aturan tidak ada secara tertulis, kan NPCI ini organisasi formal,” ungkap Yudi, di kawasan Setiabudi, Jumat (17/2).

Sejak pencairan bonus secara serentak pada Rabu 8 Februari 2017, pemotongan dengan cara memaksa secara personal terjadi. Menurutnya, pemotongan tersebut dijalankan tanpa dasar regulasi yang jelas. Bahkan, surat rekomendasi dari NPCI pusat pun, tidak diterbitkan.

Atas hal itu, pihaknya akan melaporkan pemotongan tersebut kepada Pengurus Besar Peparnas XV/2016. “Berita pastinya kami terima sesudah penyerahan bonus kemarin. Kami juga lagi kumpulkan data, tentu akan kami sampaikan ke PB Peparnas,” ucap dia.

Namun hal tersebut dibantah Sekretaris Umum NPCI Jabar Supriatna Gumilar. Dia menyebut, pemotongan insentif sebesar 10 persen diperuntukkan meng-cover hal-hal yang tidak tertuang dalam Rencana Anggaran Belanja (RAB). Diantaranya, pengadaan meja tenis, shuttlecock, air minum, angkutan transportasi khusus atlet disabilitas. Bahkan, untuk membantu atlet yang mengalami insiden, seperti patah tulang.

Kemudian, ihwal pemotongan 25 persen, Supri menuturkan, 10 persen untuk pengurus cabang, sedangkan 15 persen dikelola oleh pengurus provinsi. Dana tersebut dalam rangka menopang kesejahteraan atlet yang tidak mendapat medali. “Semua harus paham watak atlet tuna grahita, jika mereka merasa juara kedua padahal kenyataanya juara kelima, harus paham ‘ceurik na kumaha’. Mereka beda dengan atlet pada umumnya,” papar Supri.

Dan, dana kontribusi 25 persen tadi sebagai antisipasi jika ada atlet yang ekonominya kekurangan. Sejumlah dana tersebut disetor ke Pengcab masing-masing. “Sekali lagi kami tegaskan tidak ada anggaran untuk Pengcab. Itu bukan potongan, jika potongan kami berikan Rp 1 juta kami berikan Rp 700 ribu, ini tidak kan,” timpal Supri.

Supri menandaskan, semua yang dilayangkan Kelompok Penyelamat NPCI Jabar soal pemecatan sepihak, juga pemotongan bonus tidaklah tepat. Pasalnya, kepengurusan selama ini berjalan dengan baik, buktinya jika ada masalah pasti Jabar tidak juara umum. Supri menyatakan, hal itu dinamika dalam organisasi.

“Masalah kontribusi 25 persen, hemat saya itu bukan kebijakan NPCI Jabar. Saya hanya menjalankan aturan karena tidak berlaku di Jabar saja, tapi seluruh Indonesia dan sudah dibahas dalam Rakernas NPCI 2015, serta disetujui,” tutup dia. (vil)