
JABARTODAY.COM – BANDUNG — Dalam beberapa bulan mendatang, negara ini terlibat dalam kesepakatan kerjasama ekonomi ASEAN atau ASEAN Economic Community (AEC), yang bergulir pada akhir 2015 atau awal 2016. Khusus perbankan, AEC berlangsung 2020. Meski masih cukup lama, lembaga-lembaga perbankan di tanah air terus melakukan persiapan agar tetap berdaya saing.
Satu di antaranya, mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, kompeten, dan profesional. Hal itu pun dilakukan Bank OCBC NISP. “Kehadiran SDM yang profesional, berkualitas, dan kompeten dapat menunjang dan menambah daya saing industri perbankan. Karenanya, perbankan, khususnya, kami, tidak sekadar melakukan perekrutan SDM yang profesional, tetapi juga berkualtias, kompeten, dan yang terpenting, punya loyalitas serta tanggung jawab. Itu semua dapat memperkuat kinerja bisnis,” tandas Presiden Komisaris Bank OCBC NISP, Pramukti Surjaudaja, pada sela-sela Para Profesional Muda pada Industri Perbankan di Gedung De Vires, Jalan Asia Afrika Bandung, Senin (2/3).
Menurutnya, perekrutan SDM yang berkualitas, profesional, kompeten, dan tanggung jawab tersebut menjadi salah satu upaya industiri perbankan memperkuat posisinya ketika ajang AEC sektor perbankan berlangsung. Memang, kata Pram, sapaan akrabnya, ajang AEC khusus sektor perbankan baru bergulir 5 tahun lagi. Akan tetapi, sebenarnya, ungkap dia, sektor perbankan sudah terlebih dahulu mengawalinya. Karenanya, lembaga-lembaga perbankan di Indonesia, tegas dia, khususnya, Bank OCBC NISP terus melakukan persiapan, yang satu di antaranya, pemerkuatan SDM.
Lalu, perbankan asal negara mana yang menjadi kekhawatiran dan patut diwaspadai? Pram menegaskan, pihaknya tidak mengkhawatirkan perbankan asing. Justru, pendapat Pram, persaingan ketat terjadi pada perbankan domestik. “Kami lebih mewaspadai perbankan dalam negeri. Itu karena perbankan dalam negeri lebih memahami karakteristik pasar lokal daripada perbankan asing,” jelasnya.
Berbicara tentang kinerja bisnis tahun ini, Pram berpandangan, persaingan dan tantangan perbankan pada 2015 lebih berat. Satu di antaranya, terang dia, dalam hal persaingan tingkat suku bunga. Kendati begitu, pihaknya tetap memproyeksikan terciptanya pertumbuhan bisnis, baik kredit, penghimpunan dana ketiga (DPK), maupun lainnya. “Harapan kami, meski tantangan berat, tahun ini, terjadi pertumbuhan sekitar 20 persen, baik DPK, kredit, maupun lainnya,” pungkas Pram. (ADR)





