Menjerat Pelaku Pembantai Beruang Madu

kompol fx winardiKompol FX Winardi Prabowo, SIK
Perwira Sespimen Angkatan 55 Tahun 2015

Sebuah foto yang diposting di media sosial (facebook) menjadi perbincangan hangat masyarakat dalam sepekan terakhir ini. Foto yang diunggah di faceebook milik seseorang tersebut memperlihatkan dua orang tengah menguliti seekor beruang madu (ursidae) yang telah dibunuh.  Reaksi keras yang disampaikan netizen melalui media sosial pun mendapat perhatian Polri. Setelah diselidiki melalui facebook, pelaku pembantaian binatang bercakar tersebut berada di wilayah Polda Kalimantan Timur.

Hanya dalam beberapa hari setelah foto tersebut di-share melalui facebook, Polda Kalimantan Timur akhirnya berhasil membekuk tiga pelaku pembunuhan hewan langka dan dilindungi oleh Undang-undang tersebut. Perbuatan tersangka diduga  melanggar UU Nomor 5 tahun 1999 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem dengan ancaman lima tahun penjara jika perbuatan itu disengaja, dan satu tahun penjara jika perbuatan lalai. Namun bila melihat kronologis kejadiannya, ketiga pelaku diduga sengaja membunuh hewan yang banyak  hidup di wilayah hutan Kalimantan dan Sumatra.

Selain dijerat UU No 5 Tahun 1999, ketiga pelaku juga dikenakan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah No 7 tahun 1999 yang mengatakan bahwa beruang madu merupakan hewan yang dilindungi. Sebenarnya ada satu UU lagi yang bisa menjerat mereka, yaitu UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Namun untuk menjerat ketiganya dengan UU ini masih harus melalui penyelidikan yang mendalam. Jika Undang-undang ini digunakan, maka ketiga pelaku ini bisa terkena pasal berlapis dan tentunya ancaman hukumannya akan lebih berat lagi.

Ketiga orang yang diduga pelaku yaitu Ronal Cristoper, Martinus Belawang, dan Markus Lawai ditangkap oleh Polres Kutai Kertanegara di daerah Kecamatan Tabang. Mereka kemudian digelandang ke Mapolres Kukar.  Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, pelaku merupakan  operator alat-alat di satu perusahaan tambang di daerah Kukar. Mereka mengaku  memperoleh beruang madu itu saat terjerat di perangkap orang lain di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim. Polisi masih mendalami kasus tersebut. apapun dalihnya ketiga pelaku telah melanggar Undang-undang yang berlaku. Mungkin mereka menganggap aksi tersebut biasa saja karena tak mengetahui hukum yang berlaku. Namun di sisi lain jika sebuah aturan hukum diterapkan, maka tak ada alasan bagi para pelanggarnya untuk berkelit.

Dikutip dari Wikipedia Indonesia, beruang madu termasuk family ursidea dan merupakan jenis paling kecil dari kedelapan jenis beruang yang ada di dunia. Beruang ini adalah fauna khas Provinsi Bengkulu sekaligus dipakai sebagai simbol  daerah tersebut. Beruang madu juga merupakan maskot dari Kota Balikpapan. Beruang madu di Balikpapan dikonservasi di sebuah hutan lindung bernama Hutan Lindung Sungai Wain. Ciri-ciri fisik beruang ini panjang tubuhnya sekitar 1,40 meter dengan tinggi punggung mencapai 70 cm. Berat badan binatang bertaring dan pemakan segala jenis makanan ini berkisar 50 hingga 65 kilogram. Bulu beruang madu cenderung pendek, berkilau dan umumnya memiliki mata berwarna coklat.

Beruang madu hidup di hutan-hutan primer, hutan sekunder dan sering juga di lahan-lahan pertanian. Hewan ini biasanya berada di pohon pada ketinggian 2 – 7 meter dari tanah, dan suka mematahkan cabang-cabang pohon atau membuatnya melengkung untuk membuat sarang. Habitat beruang madu terdapat di daerah hujan tropis Asia Tenggara. Penyebarannya terdapat di Pulau Kalimantan, Sumatra, Indocina, Cina Selatan, Burma dan Semenanjung Malaya. Oleh karena itulah jenis ini tidak memerlukan masa hibernasi seperti beruang lain yang tinggal di wilayah empat. Beruang madu pada masa lalu diketahui tersebar hampir di seluruh Benua Asia, namun sekarang menjadi semakin jarang akibat kehilangan dan fragmentasi habitat.

Kasus pembantaian beruang madu di Kaltim ini hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Dimana binatang yang dilindungi tak boleh dipelihara secara pribadi apalagi dibunuh secara keji. Jika masyarakat ketahuan memelihara apalagi membunuh binatang tersebut, maka akan berhadapan dengan hukum. Salah satu contohnya kasus di Kaltim ini. Aksi ketiga pelaku ini sungguh biadab. Setelah menangkap hidup-hidup, binatang tersebut kemudian dikuliti. Proses pengulitan binatang ini diabadikan dan di posting di media sosial. Tentu saja aksi ini mendapat reaksi keras dari masyarakat luas. Semoga ini adalah kasus terakhir yang terjadi di Indonesia. []

Related posts