Menciptakan Rasa Aman di Bulan Ramadhan

kompol zainal arrahmanOleh Kompol  Zainal Arrahman SIK
Perwira Sespimen Angkatan 55 Tahun 2015

Memasuki bulan Ramadhan, aktivitas  tempat hiburan di sejumlah kota besar di Indonesia dihentikan. Salah satunya di Kota Bandung. Selama bulan puas, kegiatan tempat hiburan malam (karaoke, pub, panti pijat, bar, dan sejenisnya) dilarang beroperasi. Langkah tersebut dilakukan Pemkot Bandung mengacu para peraturan daerah (perda) dengan tujuan agar umat Islam yang tengah melaksanakan puasa merasa aman dan nyaman. Untuk merealisasikan kebijakan tersebut, Pemkot Bandung tentunya akan menggandeng unsure kepolisian sebagai penegak hukum. Sinergi keduanya sangat dibutuhkan dalam rangka menciptakan rasa aman bagi masyarakat selama bulan Ramadhan.

Tempat hiburan memang menjadi sorotan utama Pemkot Bandung untuk ditertibkan selama bulan puasa. Alasannya tempat hiburan sering dijadikan sumber berbagai kemaksiatan. Di tempat hiburan yang jumlahnya mencapai 300 di Kota Bandung inilah banyak beredar minuman keras dan narkoba. Kedua jenis barang terlarang inipun sering menjadi sumber berbagai tindak kriminal di masyarakat. Larang tersebut tentu harus dipatuhi oleh seluruh pengusaha tempat hiburan. Jika dilanggar tentu akan ada sanksi yang akan diterima oleh pengelola tempat hiburan tersebut.

Salah satu tindakan yang sering memicu prokontra selama Ramadhan yaitu aksi razia yang dilakukan oleh sejumlah ormas Islam terhadap tempat hiburan. Razia terhadap tempat hiburan yang membandel saat bulan puasa, merupakan kewenangan Pemkot Bandung dan Polri. Kewenangan tersebut tertuang dalam UU No 2 Tahun 2002 tentang Polri  pasal 14. Berdasarkan UU tersebut, Polri memiliki kewenangan  memelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum (Pasal 14 hurup e). karena itu jika ada pihak lain diluar Polri dan Pemkot bandung yang melakukan razia terhadap tempat hiburan jelas-jelas melanggar aturan yang ada.

Tindakan ormas Islam tersebut tentunya bertujuan positif. Hanya saja, ormas tak memiliki kewenangan dalam melakukan razia. Sebagai elemen masyarakat, ormas tentunya memiliki tanggungjawab dalam menciptakan keamanan dan ketertiban. Namun implementasinya tidak bisa dilakukan dengan caranya sendiri. Langkah yang paling memungkinkan dilakukan yaitu memberikan informasi kepada Polri tentang adanya pelanggaran tersebut. Dari laporan tersebut, Polri tentunya akan melakukan tindakan sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Persoalan razia illegal yang dilakukan sejumlah ormas saat bulan Ramadhan juga mendapat perhatian serius dari Kapolda Jabar, Irjen Pol Moechgiyarto. Kapolda mewanti-wanti agar ormas tidak melakukan razia atapun tindakan anarkis lainnya dalam melakukan penertiban terhadap tempat hiburan yang melanggar. Pihak Polda Jabar akan menindak tegas ormas yang melakukan tindakan anarkis seperti razia. Soal penertiban tempat hiburan adalah kewenangan Satpol PP dan jajaran Polri. Kedua lembaga tersebut bersinergi dalam menindak setiap pelanggaran selama bulan puasa.

Langkah serupa juga akan dilakukan jajaran Polda Metro. Kapolda Metro, Irjen  Tito Karnavian juga memperingatkan agar ormas tak melakukan sweeping terhadap tempat hiburan malam yang melanggar di wilayahnya. Tugas penindakan terhadap tempat hiburan yang membandel ada di tangan Polri. Masyarakat bisa membantu tugas Polri dalam mengawasi peredaran miras dan narkoba yang biasanya barak ditemukan di tempat hiburan malam dengan cara memberikan informasi.

Tak hanya tempat hiburan malam, situasi kemanan dan ketertiban masyarakat di jalanan pun menjadi perhatian Polri. Karena itu menjelang bulan puasa dan lebaran, jajaran Polri meningkatkan razia terhadap premanisme. Aksi premanisme yang seringkeli dikeluhkan oleh masyarakat menjadi prioritas Polri. ***

Related posts