Membangun Kembali Kota Bandung sebagai Barometer Bulutangkis

  • Whatsapp

Oleh: Drs Nurfallah, SH

BERBICARA prestasi perbulutangkisan di tingkat nasional maupun internasional, tidak akan pernah lepas dari Kota Bandung. Dalam sejarahnya,   dekade demi dekade, Kota Bandung tak pernah berhenti dalam  melahirkan atlet bulutangkis dan menjadi kontributor yang tidak pernah putus pada setiap generasinya.

Pada dekade tahun 1950-an,  Kota Bandung sudah memiliki pebulutangkis ternama, Lie Tjoe Kong. Lalu, Lie Tjoe Kong inilah yang menurunkan bakatnya kepada Tan Joe Hok. 

Kemudian, prestasi Tan Joe Hok melejit setelah dilatih Lie Tjoe Kong hingga namanya mendunia. Tan Joe Hok menjadi pionir di saat itu dan  untuk pertama kalinya  Indonesia membawa Piala Thomas setelah mengalahkan Tim Malaya, 6-3. Pada dekade itulah pebulutangkis terbaik dunia diraih oleh sosok asal Kota Bandung, Tan Joe Hok.

Prestasi yang membanggakan  juga ketika Tan Joe Hok menjadi pebulutangkis Indonesia pertama asal Bandung yang meraih gelar juara dan mengibarkan Merah Putih di kejuaraan dunia perorangan All England pada 1959.

Setelah generasi Tan Joe Hok berakhir, pembinaan bulutangkis di Kota Bandung tidak begitu saja berhenti. Keberhasilan pembinaan bulutangkis di Kota Bandung kemudian dilanjutkan oleh Iie Sumirat. Keberhasilan Iie dengan aksi-aksinya membuat masyarakat Indonesa khususnya Kota Bandung bangga karena  mampu mengalahkan pebulutangkis dunia asal Denmark, Svend Pri di partai final Thomas Cup yang digelar di Jakarta pada 1979.

Sosok Iie Sumirat menghipnotis masyarakat Kota Bandung untuk tidak ketinggalan menyaksikan penampilannya. Bagi yang pernah mengalaminya pada masa itu  mungkin merasakan bagaimana antusiasme warga Kota Bandung  begitu tidak sabarnya menunggu di depan televisi hanya untuk menyaksikan Iie Sumirat bermain.

Antusiasme itu juga mengingatkan ke masa yang sama ketika Muhammad Ali naik ring. Setiap kali Muhammad Ali tampil, jalanan Kota Bandung pada waktu itu mendadak sepi, sebab semua warga khususnya pecinta tinju ingin menyaksikan petinju dunia ini.

Keberhasilan bulutangkis Kota Bandung pun tak hanya di sektor putra. Di sektor putri kita pun pernah merasa bangga karena sosok Ivana Lie sebagai wakil Kota Bandung di kancah nasional maupun internasional.

Lalu setelah itu, pebulutangkis Kota Bandung dilanjutkan generasi Ricky Subagja melalui ganda putra yang berpasangan dengan Rexy Mainaki yang meraih medali emas di Olimpiade  Atlanta 1996, serta Taufik Hidayat yang juga mempersembahkan medali emas di Olimpiade Athena 2004.

Kota Bandung juga tercatat memiliki pelatih-pelatih handal seperti almarhum, Tahir Djide. Ia  sebagai pelatih yang mengantarkan Susi Susanti melejit membawa harum Jawa Barat ke tingkat dunia. Susi Susanti kita tahu peraih medali emas di Olimpiade Barcelona 1992  melalui nomor  tunggal putri. 

Sekilas perjalanan kiprah para pebulutangkis asal Kota Bandung yang diperoleh dari berbagai sumber yang valid ternyata tidak sedikit dari segi jumlah atlet maupun prestasi yang mereka raih di tingkat nasional maupun internasional dengan berbagai kelebihannya masing-masing.

Namun, keberhasilan yang mereka raih tidaklah instan. Dapat dipastikan, keberhasilan mereka karena proses pembinaan dan latihan yang mereka jalani secara sungguh-sungguh baik di klubnya masing-masing maupun kegigihan para pelatihnya.

Iri rasanya jika dibandingkan dengan era dulu justru di era sekarang dengan kemajuan teknologi yang canggih prestasi bulutangkis di Tanah Air harus ketinggalan oleh negara lain.

Kota Bandung harus kembali menjadi pelopor lahirnya atlet-atlet bulutangkis handal dan kelak harus menjadi pionir bagi Indonesia.

Kota Bandung melalui klub asalnya juga  harus kembali bisa melahirkan Tan Joe Hok, Iie Sumirat, Ivanna Lie, Ricky Subagja, serta Taufik Hidayat muda di era sekarang.

Tentunya, kita merindukan atlet bulutangkis muda Kota Bandung tampil di dunia mengharumkan nama bangsa. Kita tentu saja rindu atmosfer bulutangkis di Kota Bandung seperti zaman dulu, mau menunggu berjam-berjam di depan televisi karena ingin melihat aksi-aksi Iie Sumirat, Ricky  Subagja atau Taufik Hidayat. Kita pun akan sangat gembira apabila di masa sekarang bisa   melihat kembali tumbuhnya GOR – GOR bulutangkis di sudut-sudut Kota Bandung.

Untuk membangun atmofser dan  memperbaiki ketertinggalan Kota Bandung dalam melahirkan kembali pebulutangkis muda bukan saja tanggung jawab orang perorangan. Ini menjadi tanggung bersama baik PBSI sebagai induknya maupun klub-klub sebagai anggota. Dan, tentunya organisasi dalam hal ini Pengcab PBSI Kota Bandung sebagai organisasi tertinggi harus dikuatkan sejak sekarang.

Dengan menguatkan organisasi  diharapkan akan memperkokoh dan menjadi panutan klub dan PB sebagai anggota untuk bersama – sama memiliki rasa tanggung jawab demi mengembalikan kejayaan bulutangkis Kota Bandung.

Kota Bandung saat ini memiliki hampir 30 Klub atau PB (Persatuan Bulutangkis) baik yang terafiliasi maupun belum di Pengcab PBSI Bandung. Jika sinergitas Pengcab PBSI Kota Bandung bersama seluruh Klub/PB tersebut dapat terbangun dengan baik, rasanya  tidak ada yang tidak mungkin, satu, dua atau bahkan lebih dapat melahirkan atlet bulutangkis yang handal dan akan menjadi pionir bagi bulutangkis Tanah Air.

Sinergitas seperti apa yang harus dilakukan agar cita-cita mengembalikan kejayaan  bulutagkis di Kota Bandung dapat terwujud, yaitu menyeleraskan serta menyatukan persepsi dalam  hal pembinaan. Itu semua menjadi kewajiban Pengcab PBSI Kota Bandung untuk merangkul seluruh Klub dan stakeholder. Bersama-sama memperbaiki manajemen pembinaan hal yang paling utama. Sebab, kemajuan bulutangkis dengan pembinaannya akan terwujud apabila dikelola  secara profesional.

Meningkatkan sektor Sumber Daya Manusia (SDM) juga menjadi hal yang sangat penting. Terutama untuk sektor pelatih dimana setiap Klub atau PB ditangani oleh para pelatih yang berpengalaman dengan mengedepankan pengabdian. Yang lainnya adalah menggelar berbagai kejuaraan yang berkualitas dan berjenjang. Namun, menggelar kejuaraan tersebut tidak asal menggelar sekedar untuk memenuhi jumlah peserta saja. Tetapi, jenjangnya harus jelas dan dilengkapi dengan pemandu bakat yang berkualitas pula.

Jika kita kembali melihat kepada sejarah perjalanan bulutangkis Kota Bandung juga tak cukup dengan melihat para pelakunya. Klub atau PB yang ada di Kota Bandung pun harus dihargai karena bagaimana pun juga mereka memiliki jasa serta  andil besar dalam membina sebutlah PB. Mutiara, PB. Kotab, PB.Sangkuriang, PB. SGS, PB. BM77 dan beberapa klub lainnya yang ada di Kota Bandung.

Klub dan PB  inilah yang menjadi tulang punggung melahirkan atlet bulutangkis yang handal. Pengcab PBSI Kota Bandung  akan terangkat karena klub dan PB-nya yang telah membina dengan baik. Tanpa klub dan PB, Pengcab PBSI Kota Bandung tak akan berarti apa-apa.

Melalui tulisan ini berharap menjadi sebuah motivasi untuk membangun kembali kepada kejayaan bulutangkis di Kota Bandung. Dengan melihat kepada sejarah pula ada sebuah benang merah bahwa Kota Bandung tidak dan jangan pernah tertinggal oleh daerah lain dalam membina, melahirkan dan mengantarkan kembali pebulutangkis asal Kota Bandung sebagai pionir bulutangkis Tanah Air.

Terobosan

Membangun prestasi bulutangkis pun rasanya tidak cukup hanya dengan termotivasi dan melihat kepada sejarahnya saja. Justru, harus menjadi sebuah tantangan ke depan bagi para penerusnya.

Paling tidak sebuah terobosan atau program baru dalam meneruskan pencapaian prestasi yang telah ditorehkan oleh para pendahulu semakin disempurnakan di masa sekarang.

PBSI Kota Bandung sebagai owner dan Klub/PB sebagai stakeholder bisa saling bahu membahu dalam membuat rancangan jangka pendek maupun jangka panjang menuju pembinaan yang baik. Dengan memberdayakan  semua  PB yang terafiliasi di PBSI Kota Bandung, sangat memungkinan melahirkan kembali pebulutangkis berbakat melalui Program Wajib yaitu, Menggelar Pelatihan se-Kota Bandung (Pelatkot), serta   menggelar berbagai Kompetisi, Turnamen Tahunan  Secara Rutin di setiap tingkatan.

Untuk melengkapi semua program itu tentu saja membutuhkan upaya – upaya serta langkah – langkah yang kongkret sebagai Penunjang dan Program Tambahannya  yaitu mendirikan Bandung Badminton Academy. Pembentukan Asosiasi Pelatih, Wasit serta Aparat Pertandingan. Dan, agar semua program tersebut semakin lengkap maka  secara rutin menggelar Pelatihan atau Coaching Clinic serta mengeluarkan Sertifikat.

Dari tingkat bawah pun jangan sampai dikesampingkan. Sebab, dari tingkat bawah itulah kerap banyak bakat – bakat yang luput  dari perhatian. Oleh karena itu,  perlunya  menggalakkan penggalian potensi atau menjaring bakat muda melalui program tambahan lainnya yaitu  Kerja Sama dengan  sekolah – sekolah bisa  melalui sistem Pemberian Sarana Penunjang  atau bisa melalui Bapak Angkat.

Cita- cita mengembalikan Kota Bandung sebagai barometer bulutangkis bisa diwujudkan apabila semua program dijalankan sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing  terutama konsistensi dan keseriusan dari  semua pelaku bulutangkis di Kota Bandung. 

Badminton dimana – mana

Di kampung jeung di kota

Badminton keur suka – suka

Ngalipur manah sungkawa

Dilob, apung – apungan

Dicok, kana net nyangsang

Dismesh. Ka Beulah kenca

Backhand, tisoledat

….

Bait –bait lagu berjudul Badminton diatas ciptaan  Mang Koko (Koko Koswara) dan dinyanyikan oleh Benyamin S dalam bahasa Sunda dan tidak dalam bahasa Indonesia. 

Secara tidak langsung lagu tersebut menjadi sebuah pesan moral dari sosok Mang Koko  kepada masyarakat Kota Bandung atas kegemilangan para pebulutangkis Kota Bandung yang  berprestasi pada waktu itu sehingga   olahraga ini menjadi populer dimana – man. Boleh jadi,  saking bangganya sebagai warga Kota Bandung maka Mang Koko mengapresiasikannya   melalui penciptaan lagu dan sampai sekarang  lagu tersebut  masih bisa didengar.

Dan kalau menyimak bait pertama dan kedua badminton dimana – mana di kampung jeung di kota, kita bisa  memetik lagi  pesan moral lainnya dari lagu tersebut bahwa Mang Koko seakan ingin menegaskan dan membuktikan kepada dunia kalau barometer badminton atau bulutangkis adanya di Kota Bandung, di Tatar Sunda. (*)

Related posts