Luhut Tantang Industri-Industri Strategis

jabartoday.com/net
jabartoday.com/net

JABARTODAY.COM – BANDUNG –– Memiliki industri strategis yang kuat dapat menjadi sebuah fondasi sebuah negara untuk lebih maju. Akan tetapi, banyak hal dan faktor yang dapat memengaruhi dunia industri. Satu di antaranya, pasokan energi listrik. Karenanya, Kepala Staf Kepresidenan Indonesia, Luhut Binsar Panjaitan. meminta, bahkan menantang industri-industri strategis di Indonesia, seperti PT PAL, PT Pindad, dan PT Dirgantara Indonesia (DI), supaya menggarap proyek raksasa, yaitu dalam hal kelistrikan sebesar 35 ribu Mega Watt (MW).

Menurutnya, apabila industri-industri strategis tersebut terlibat dalam proyek kelistrikan, hal itu dapat menciptakan efisiensi. Pasalnya, keterlibatan industri strategis dalam proyek kelistrikan dapat menekan angka impor. “Apa yang dapat diproduksi industri strategis dalam hak kelistrikan? Apa yang dapat dibuat PT PAL, PT Pindad, BPPT, PT DI? Apakah inseneratornya, broilernya, atau lainnya? Masa semua harus impor,” tandas Luhut saat berkunjung ke ke PT Pindad (Persero), Jalan Gatotsubroto Bandung, belum lama ini.

Dijelaskan, proyek raksasa pembangkit berkapasitas 35 ribu MW itu merupakan proyek pemerintah. Proyek tersebut, jelasnya, didasari oleh terus meningkatnya kebutuhan energi listrik setiap tahun, yaitu sekitar 10-11 persen. Dia berpendapat, seandainya pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen, hitung-hitungannya, perlu terciptanya pertumbuhan pasokan energi listrik sekitar 7-8 persen per tahun. “Atau, kapasitasnya 4.600 MW,” sebut dia.

Dia berpandangan, menjadi sebuah hal yang sangat positif jika kebutuhan komponen pembangkit listrik dipenuhi industri dalam negeri. Dia mencontohkan PT Pindad (Persero). Perusahaan BUMN tersebut, jelas dia, tentunya, dapat memproduksi komoditi lain, seperti broilier atau lainnya, selain memproduksi komoditi andalannya, yaitu sistem pertahanan.

Menanggapi hal itu, Direktur Utama PT Pindad (Persero), Sylmi Karim, menegaskan, pihaknya punya kemampuan memproduksi generator. Kapastisanya, sebut dia, baru mencapai 10 MW. Kemampuan tersebut, jelas dia, warisan Presiden Republik Indonesia ke-3 yang pada era Orde Baru menjabat Menteri Riset dan Teknologi/Kepala BPPT, BJ Habibie, ketika menjalin kerjassama dengan industri asal Jerman, Siemens.

Ketika itu, tutur Sylmi, memproduksi generator berkapasitas sebesar 3,5 MW. Pasca kerjasama berakhir, lanjut dia, pihaknya melakukan pengembangan. Hasilnya, sukses membuat generator berdaya 10 MW. (ADR)

Related posts