Lampu Kuning Bagi Minyak Nasional

jahartoday.com/net
jabartoday.com/net

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Sepertinya, sektor minyak dan gas bumi (migas) nasional memasuki fase lampu kuning. Pasalnya, selama beberapa tahun terakhir, cadangan migas nasional menipis.

Catatan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menunjukkan, potensi terjadinya penurunan produksi minyak mentah Indonesia sekitar 20 persen tiap tahunnya. “Bahkan, perhitungannya, dalam 2-5 tahun mendatang, produksi nasional sebesar 500 ribu barel per hari (bph),” tandas Kepala Humas SKK Migas, Taslim Z. Yunus, pada Sosialisasi Industri Hulu Migas di Kantor Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Barat, Soekarno Hatta, Bandung belum lama ini.

Taslim meneruskan, ironisnya,enipisnya cadangan migas itu kirang terimbangi oleh pencarian sumur baru, yang memang tergolong minim. Menurutnya, seandainya berlangsung oengeboran, hasilnya sangat kurang memenuhi ekspetasi. Sekitar 90 persen hasil pengeboran berupa air. “Artinya, kandungan minyak hanya 10 persen,” sahutnya.

Padahal, ungkap dia, beberapa tahun lalu, kapasitas produksi setiap sumur mencapai 1,2-1,5 juta barel per hari. Saat ini, tuturnya, rata-rata produksi migas 830-850 ribu barel per hari.

Data SKK Migas, sebutnya, pada Juli tahun ini, produksi rata-rata minyak mencapai 834.700 barel per hari. Volume produksi itu, tukasnya, lebih tinggi 696 barel per hari datipada Juni 2016, yang produksi rata-ratanya 834.004 barel per hari.

Angka itu, kata Taslim, di bawah kebutuhan minyak nasional, yang rata-rata 1,4 juta barel per hari. Perkiraannya, ucapnya, pada 2025, kebutuhan melejit menjadi 2 juta barel per hari. Sementara lifting minyak semester I/2016, imbuh Taslim, sebanyak 817,9 ribu barel per hari.

Tahun ini, ungkapnya, dalam APBN Perubahan 2016, target lifting minyak   sebesae 820 ribu barel per hari. “Tahun lalu, targetnya 825 ribu barel per hari. Tapi, tidak tercapai karena realisasinya 777.600 barel per hari.

Taslim melanjutkan, merosotnya produksi itu bukan tanpa sebab. Dia berpendapat, kondisi itu terjadi karena bamyak sumur berusia tua dan tidak lagi produktif. Sedangkan penemuan sumur baru bernilai ekonomis rendah. Untuk menjaga produksi, sahut Taslim, upayanya mengandalkan kilang lepas pantai atau offshore.

Soal gas bumi, Taslim menambahkan, produksi rata-rata pada 30 Juli 2016 7.962 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Angka itu sedikit lebih rendah daripada 30 Juni 2016 sebesar 7.985 MMSCFD. Sedangkan dalam APBN perubahan 2016, pemerintah menargetkan 6.440 MMSCFD.

Tentang investasi, periode paruh tahun ini, nilainya 5,65 miliar Dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 76,3 triliun. Angka itu, jelasnya, terdiri atas Investasi eksplorasi 367 juta Dolar AS. “Lalu, investasi pengembangan senilai 845 juta Dolar AS. Kemudian, produksi sejumlah 3,922 miliar Dolar AS, dan administrasi  521 juta Dolar AS,” tutupnya.  (ADR)

Related posts