Kerikil Tajam Timpa Bisnis Fashion. Kondisinya Seperti Ini

Bisnis busana, termasuk busana muslim, saat ini dalam kondisi berat, sebagai dampak perkembanga global, yang di antaranya membuat rupiah terdepresiasi.  (jabartoday.com/net)

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Tidak terpungkiri, bahwa perkembangan global dan adanya isu trade war antara Amerika Serikat (AS) dan China, ditambah oleh depresiasi rupiah berdampak pada banyak lini serta sektor bisnis. Sektor pakaian jadi (fashion), termasuk busana muslim pun terkena imbasnya.

“Kondisi sekarang, industri fashion cukup tertekan. Itu karena pasar tidak terlalu ramai akibat daya beli turun. Bahan baku yang impor pun mahal karena depresiasi rupiah,” tandas Ridwanul Karim, General Manager Marketing Rabbani, pada sela-sela Launching Rabbani for Men di Jalan Buah Batu Bandung, akhir pekan kemarin.

Ridwan, sapaan akrabnya, meneruskan, kondisi sekarang, pertumbuhannya berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya. Menurutnya, dalam 2-3 tahun terakhir, pihaknya dapat mencatat pertumbuhan double digit. Saat ini, aku Ridwan, untuk menorehkan pertumbuhan double digit bukan perkara mudah dan perlu kerja keras.

Perlu, ujarnya, berbagai upaya agar pertumbuhan tetap terjaga. Sejumlah upaya, kata Ridwan, pihaknya, lakukan demi menjaga pasar. Di antaranya, ungkap Ridwan, merangkul sejunlah komunitas, lembaga, organisasi, dan lainnya.  “Misalnya, komunitas biker muslim. Harapannya, langkah ini dapat menjaga dan meningkatkan pangsa pasar,” tutup Ridwan.

Sebelumnya, Ketua Badan Pengurus Pusat (BPP) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jabar, Dedy Widjaja, mengakui bahwa industri garmen Jabar dalam kondisi lampu kuning. Dedy mengutarakan, itu terjadi karena beban industri garmen kian berat.

Dedy mengatakan, beberapa hal yang membuat kondisi garmen kian berat. Antara lain, ujarnya, harga bahan baku, yang sebagian di antaranya impor, mahal karena kurs rupiah melemah.

Lalu, lanjut dia, pasar pun sepi sehingga produk tidak terserap. Hal itu, sambungnya, membuat omzet drop. “Dampaknya, beban industri garmen, di antaranya, biaya operasional, termasuk upah pekerja, kian berat,” kata Dedy.  (win)

Related posts