Inflasi Jabar Lebihi Nasional

  • Whatsapp
jabartoday.com/web
jabartoday.com/web

JABARTODAY.COM – BANDUNG
Putusan pemerintah untuk menaikkan harga jual bahan bakar minyak (BBM) subsidi, yang masing-masing senilai Rp 2.000 per liter, yaitu premium menjadi Rp 8.500 per liter dan solar, yang kini Rp 7.500 per liter, menjadi salah satu pemicu terjadinya inflasi di negara ini, tidak terkecuali Jabar. Bahkan, berdasarkan pencatatan Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar, angka inflasi di tatar Pasundan periode November 2014 lebih besar daripada inflasi nasional.

“Pada November tahun ini, inflasi Jabar 1,59 persen. Jumlah itu melewati angka inflasi nasional, yang besarnya 1,50 persen,” tandas Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Jabar, Dody Gunawan Yusuf, di Kantor BPS Jabar, Jalan PHH Mustopha Bandung, baru-baru ini.

Dody meneruskan, di Jabar, secara tahun kalender, laju inflasinya 5,16 persen. Sedangkan, lanjut Dody, besarnya inflasi selama 12 bulan terakhir mencapai 5,54 persen. Menurutnya, terjadinya inflasi tersebut karena beberapa faktor.

Dia menyatakan, inflasi November 2014 adalah yang tertinggi selama enam bulan terakhir. Pada Juni tahun ini, inflasi Jabar sebesar 0,38 persen. Bulan berikutnya, inflasinya 0,86 persen. Selanjutnya, pada Agustus, inflasi sebesar 0,44 persen. Lalu, pada September, sebesar,0,26 persen. Kemudian selama Oktober 0,32 persen.

Dody tidak memungkiri bahwa inflasi tersebut satu di antaranya, disebabkan putusan kenaikan harga jual BBM subsidi. Bahkan, Dody memperkirakan, efek kenaikan harga BBM subsidi yang baru memasuki hari ke-13, masih dapat terlihat pada bulan depan.

Ada beberapa sektor atau kelompok yang menyebabkan tingginya inflasi di Jabar. Yaitu, sebutnya, transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Kontribusi ketiganya sebesar 5,22 persen. “Yang tertinggi adalah sub-kelompok jasa keuangan dan sub-kelompok transportasi. Komoditi penyumbang inflasi yaitu bensin premium, angkutan udara, solar, angkutan antarkota, dan transfer dana,” tuturnya.

Menurutnya, inflasi tersebut merupakan efek langsung naiknya BBM subsidi. Namun, tambah dia, efek kenaikan harga BBM subsidi yang secara tidak langsung, sejauh ini, belum terlihat dan terasa. Apabila memperhatikan kondisi itu, efek kenaikan harga BBM subsidi pada sektor industri manufaktur, berpotensi teraa pada bulan-bulan berikutnya.  (ADR)

Berita Terkait