Indonesia Butuh Pasokan Listrik Lebih Besar

M LutfiJABARTODAY.COM – BANDUNG

Banyak hal dan faktor yang menjadi pendukung terciptanya laju pertumbuhan ekonomi. Satu diantaranya, terdapat dalam hal ketersediaan sumber energi listrik.

“Banyak pengamat dan ekonom dunia menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi sebuah negara raksasa. Pada 2040, prediksinya, Indonesia memiliki Gross Domestic Bruto (GDP) 37 triliun Dollar Amerika Serikat atau berada di bawah Cina, AS, dan India. Sepuluh tahun berikutnya, perkiraannya, naik menjadi 50 triliun Dollar AS,” ujar Menteri Perdagangan, M Lutfi, pada Halal Bihalal Keluarga Besar Kamar Dagang dan Industri Jawa Barat di Trans Luxury Hotel, Kamis (21/8/2014) malam.

Lutfi meneruskan, untuk merealisasikan prediksi itu, bukan perkara mudah. Menurutnya, seluruh pemangku kepentingan, termasuk pembuat kebijakan, butuh berkolaborasi dan bekerja keras. Misalnya, dalam hal ketersediaan sarana infrastruktur.

Lutfi mengakui bahwa infrastruktur masih menjadi kendala di negara ini. Karenanya, sahut dia, sektor tersebut menjadi salah satu fokus pemerintah. Selain itu, lanjut dia, ketersediaan energi listrik pun masih belum menunjang.

Diutarakan, saat ini, ketersediaan listrik di Indonesia masih belum mencukupi. Kapasitas energi listrik yang terpasang, kata Lutfi, saat ini, baru sekitar 43 ribu Mega Watt (MW). Mayoritas, sambung dia, berada di Jawa. Sedangkan daerah lain di wilayah timur Indonesia, masih minim. “Kurangnya ketersediaan dan pasokan listrik dapat mengurangi nilai tambah,” ucap dia.

Makin berkembangnya dan bertumbuhnya ekonomi serta kebutuhan, lanjut Lutfi, Indonesia, yang berada dan terjebak pada level middle, memiliki pasokan energi listrik sebesar 250 ribu MW. “Jika ingin lebih berkembang dan berdaya saing, idealnya, Indonesia butuh pasokan listrik yang lebih besar lagi, yaitu 427 ribu MW,” katanya.

Lutfi berpendapat, keterbatasan pasokan listrik itu dapat menjadi hambatan sektor dunia usaha. “Bayangkan, jika sebuah pabrik di Indonesia Timur, hanya teraliri listrik setiap dua hari atau satu hari menyala, satu hari padam. Ini kan jelas-jelas menjadi penghambat. Jika itu terjadi, tentunya, daya saing industri pun melemah,” tuturnya.

Kondisi itu pun membuat daya tarik Indonesia sebagai negara tujuan investasi menjadi turun. Padahal, kata dia, saat ini, banyak negara yang menjadikan Indonesia selaku destinasi investasi. Adalah Jepang, sebut dia, salah satunya.

Negara Matahari Terbit itu, kata Lutfi, menjadi salah satu negara investor terbesar di tanah air. Pada 2010, ungkap dia, investasi Jepang sekitar 715 juta Dollar AS, Pada akhir tahun lalu, naik menjadi 4,5 miliar Dollar AS. Ini menunjukkan, daya tarik investasi di Indonesia begitu besar. (ADR)

Related posts