Impor LTE Capai Miliaran Dollar AS

foto: WEB
foto: WEB

JABARTODAY.COM – BANDUNG
Ternyata, hinggakini, pemenuhan kebutuhan perangkat perangkat 4G Long Term Evolution (LTE) domestik masih belum mencukupi. Karenanya, untuk memenuhi kebutuhannya, impor menjadi opsinya. Guna memenuhi kebutuhan 4G LTE, PT LEN Industri (Persero) menjalin kesepakatan kerjasama dengan Institur Teknologi Bandung (ITB). Kerjasama itu bentuknya membawa hasil riset, penelitian, dan pengembangan 4G LTE pada tingkat produksi dan level dunia bisnis.

Menurut Vice President Marketing dan Bisnis PT LEN Industri, Tarmizi Kemal Fasya, menyatakan, salah satu dasar kerjasama dengan ITB tersebut karena produk LTE mengalami perkembangan yang begitu pesat. “Kami segera menindaklanjuti kerjasama itu sehingga hasil riset, penelitian, dan pengembangan sistem serta perangkat LTE tersebut memenuhi kebutuhan dalam negeri. Setidaknya, pasar domestik dapat terpenuhi 30 persen. Jika itu tercapai, kami siap meningkatkannya setiap tahun,” tandas Tarmizi, pendandatanganan kerjasama antara PT LEN Industri dengan Program Magister Elektro ITB di Aula Timur ITB Kota Bandung. belum lama ini.

Karena pemenuhan LTE untuk pasar domestik masih minim, jelasnya, impor menjadi pilihan. Sejauh ini, ungkapnya, volume impor perangkat dan handset, secara nyata, terjadi ketimpangan penguasaan pasar antara perusahaan asing dan domestik. Menurutnya, kontribusi impor LTE berkontribusi 3,3 persen total impor komoditas non-migas utama Indonesia.

Sumber besarnya impor itu adalah handset dan base station. Nilainya, sebut dia, pada Januari-September tahun ini, mencapai 2,6 miliar Dollar Amerika Serikat (AS). Tahun lalu, sambung dia, nilai impornya sejumlah 2,5 miliar Dolar AS. Sedangkan pada 2012, tambah dia, nilai impornya pun besar, yaitu 2,89 miliar Dolar AS. Melihat kondisi itu, Tarmizi menegaskan, supaya kebutuhan LTE dalam negeri terpenuhi, butuh komitmen kuat perusahaan domestik, sebagai penyedia perangkat dan handset telekomunikasi.

Pihaknya, tutur dia, yang menggeluti bidang wireless broadband, selama ini, melakukan tiga model bisnis berbeda. Antara lain, tukasnya, kerja sama produksi, transfer teknologi, dan kerja sama mekanisme teknologi, yang memanfaatkan rancang bangun teknologi Len-ITB. Rencananya, sahut dia, kerjasama PT LEN Industri dan ITB tersebut segera memasuki babak berikutnya, yaitu pabrikasi melalui pemanfaatan lini prduksi di Bandung dan Batam. “Harapannya, ini menjadi piliot project perusahaan telekomunikasi di Indonesia,” tutup Turmuzi. (ADR)

Related posts