Dituntut Tiga Tahun, Lenih Menangis

SidangJABARTODAY.COM – BANDUNG Isak tangis tak tertahankan usai Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi membacakan tuntutan mereka kepada pasangan suami-istri yang menjadi terdakwa dalam perkara dugaan suap kepada jaksa untuk pengurusan perkara korupsi BPJS Kesehatan Subang, Jajang Abdul Holik dan Lenih Marliana di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung, Senin (29/8).
Dalam persidangan di Ruang I Pengadilan Negeri Bandung, jaksa menuntut keduanya dengan hukuman tiga tahun penjara, karena dinilai telah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a UU No 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. ’’Meminta kepada majelis hakim yang berwenang menyidangkan perkara ini untuk menjatuhkan pidana penjara selama tiga tahun serta denda Rp 50 juta yang bila tidak dibayar diganti kurungan empat bulan,” ucap JPU KPK Dody, dalam pembacaan amar tuntutannya di hadapan Hakim Ketua Longser Sormin.
Mendengar tuntutan itu, Lenih tak kuasa membendung tangisnya. Dirinya meminta kepada majelis hakim agar diberikan keringanan hukuman. Mengingat dirinya harus mendidik dan melihat anak-anaknya tumbuh dewasa. ’’Saya mohon hakim memberikan putusan seringan-ringannya,” ujarnya sambil terisak.
Jajang pun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meminta maaf kepada sang istri. Pasalnya, terdampak perbuatannya, orang tercintanya mesti terseret hingga ke meja hijau. ’’Saya mohon maaf kepada istri, orang tua, mertua, keluarga, dan anak-anak saya,” sahut mantan Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Subang itu.
Kasus ini bermula, seperti tercantum dalam berkas dakwaan, ketika Jajang melalui Lenih menyerahkan uang sebesar Rp 200 juta kepada jaksa Devyani Rochaeni untuk diserahkan kepada Fahri Nurmallo. Uang itu menurut KPK merupakan hadiah untuk kedua jaksa yang menangani kasus korupsi dan BPJS Kabupaten Subang di Kejati Jabar.
Sepasang suami isteri tersebut ditangkap oleh KPK dalam operasi tangkap tangan (OTT) di Kantor Kejati Jabar pada 11 April 2016 lalu. Dari hasil pemeriksaan oleh KPK setelah membawa orang yang terlibat, diketahui uang sebesar Rp 200 juta tersebut berasal dari Ojang Suhandi, agar dirinya tidak ikut terseret dalam kasus korupsi dana BPJS Kabupaten Subang. (dva)

Related posts