Wednesday , 13 November 2019
Home » Headline » “Dibajak? Kami Tidak Khawatir”

“Dibajak? Kami Tidak Khawatir”

abpbh2010.myvc.biz
abpbh2010.myvc.biz

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Hingga kini, ada hal yang masih menjadi permasalahan industri musik di tanah air, yaitu pembajakan. Sejauh ini, banyak artis dan musisi di Indonesia yang mengeluhkan praktik tidak terpuji tersebut. Namun, berbeda dengan grup Nasyid asal Malaysia, Generasi Harapan (GH).

Grup musik bernuansa Islami yang digawangi 16 orang bersaudara, yaitu Muhammad Rifaah, Khaulah Asaari, Siti Fatimah Asaari, Abdul Wadud Asaari, Muhammad Humam , Fida’uddin Asaari, Muhammad Ajwad, Ummu Sofwah Asaari, Muhammad Adib, Muhammad Ubadah, Ummu Mubarokah, Fat-hiyyah, Muhammad Abbaad, dan Bariirah itu mengaku tidak mengkhawatirkan aksi pembajakan di Indonesia. “Tidak masalah. Bahkan, kami tidak akan menuntut. Justru, kami merasa beruntung karena masyarakat dapat lebih mengenal kami,” ucap Muhammad Ajwad, salah satu personil GH pada sela-sela Promo Album “Takkan Terputus Lagi dengan Hati Mu” di Centrum, Jalan Belitung Bandung, belum lama ini.

Ajwad menerangkan, grup yang beranggotakan 16 orang saudara dari satu ayah dan empat ibu tersebut tidak terlalu berorientasi mencari keuntungan. Grup ini, aku dia, hadir lebih pada mensyiarkan ajaran Islam kepada seluruh publik, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga berbagai negara. “Tujuan kami untuk syiar Islam. Ini semua berkat Allah SWT. Jadi, biarlah Allah SWT yang menentukan,” tuturnya.

studiokini.blogspot.com
studiokini.blogspot.com

Upaya syiar Islam itu, sambung Ajwad, berlangsung di berbagai negara. Buktinya, grup asal Kuala Lumpur tersebut melakukan berbagai cara. Di antaranya, berkeliling dunia. Mereka tidak hanya melakukannya di Asia Tenggara, tetapi juga hingga Timur Tengah, satu di antaranya Yordania. Hebatnya, grup yang tidak menspesifikasikan genre tertentu pada karya musiknya yang sarat ajakan kebaikan itu, mendapat respon positif para fans musik Islami di negara-negara berbatasan dengan Arab Saudi, yaitu Irak, Suriah, dan Israel.

Bahkan, ungkapnya, mereka pun mencoba melakukan syiar di negeri Paman Sam dan Eropa, satu di antaranya Jerman. “Itu kami lakukan karena Islam di negara tersebut mengalami perkembangan,” sahut Ajwad.

Pemuda berusia 24 tahun itu melanjutkan, lirik lagu-lagunya merupakan karya mendiang ayahnya, yang merupakan seorang penyair. Karya-karya mendiang ayahnya, kata Ajwad indah. Itulah yang membuat Ajwad dan ke-15 saudaranya yang berbeda ibu bersepakat untuk menggubahnya menjadi karya lagu. “Liriknya karya ayah kami. Sedangkan aransemen musik, kami yang melakukannya tanpa keterlibatan musisi lain,” tuturnya.

Khusus album terkininya itu, Ajwad mengungkapkan, seperti halnya grup musik lain, GH pun punya lagu andalan. Adalah “Wahai Jiwa” yang merupakan tembang jago GH. “Isinya tentang kesiapan hati manusia untuk bertemu Allah SWT. Dalam Al Quran ada keterangan bahwa setiap yang bernafas dan berjiwa pasti mati. Nah, sudah siapkah hati kita bertemu Sang Pencipta?,” paparnya menutup pembicaraan.  (ADR)