BI Rate Naik, Perbankan Tahan Suku Bunga

foto: WEB
foto: WEB

JABARTODAY.COM – BANDUNG
Beberapa hari setelah pemerintah mengumumkan kenaikan harga jual bahan bakar minyak (BBM) subsidi sebesar Rp 2.000 per liter, yaitu premium, menjadi Rp 8.500 per liter dan solar yang kini berharga Rp 7.500 per liter, Bank Indonesia (BI) melakukan penyesuaian suku bunga acuan alias BI Rate. Kini, BI Rate berada pada level 7,75 persen. Kondisi itu memungkinkan lembaga-lembaga perbankan turut melakukan penyesuaian suku bunganya, baik landing (kredit) maupun funding (dana pihak ketiga-DPK).

Akan tetapi, ternyata, sejauh ini, sejumlah perbankan masih menahan tingkat suku bunganya. Lembaga-lembaga perbankan tersebut belum berencana menaikan bunga simpanan maupun pinjaman. “Sampai kini, kami belum menyesuaikan tingkat suku bunga pendanaan maupun pembiayaan walaupun BI Rate saat ini naik menjadi 7,75 persen,” tandas Corporate Communication Division Head Bank OCBC NISP, Tina Tjintawati, Selasa (9/12).

Menurutnya, memang, naiknya BI Rate tentunya membuat lembaga-lembaga perbankan menyelaraskan tingkat suku bunganya. Namun, hingga kini, lembaga-lembaga perbankan, termasuk Bank OCBC NISP memilih sikap wait and see perkembangan pasar dan kondisi ekonomi secara makro. “Artinya, penyesuaian dan penyelarasan suku bunga perbankan tidak berlangsung serta merta pasca BI Rate naik,” tuturnya.

Dia menegaskan, kendati belum berencana melakukan penyelarasan suku bunga, pihaknya mengikuti kebijakan BI. Itu karena, jelas dia, putusan kenaikan BI Rate tersebut tentunya merupakan hasil pertimbangan BI secara matang.

Soal ada tidaknya efek negatif kenaikan BI Rate, Tina menyatakan, hal itu tidak berdampak. Pasalnya, terang dia, khusus Bank OCBC NISP, lembaga perbankan yang berdiri dan awal beroperasi di Bandung pada warsa 1940-an tersebut memiliki segmen emerging. Dia berpendapat, segmen emerging punya kondisi dan kemampuan keuangan yang tergolong stabil. Bahkan, cetusnya, pihaknya optimis kinerja 2015 lebih baik dan berpotensi bertumbuh 10 persen lebih.

Regional Corporate Officer PT Bank Danamon Tbk Wilayah II Jabar, Arief Setyahadi, berpendapat sama dengan Tina. Perkiraannya, ucap Arief, lembaga-lembaga perbankan menahan tingkat suku bunga sampai akhir tahun ini. “Setidaknya, suku bunga perbankan belum ada penyesuaian hingga akhir 2014,” tukasnya.

Arief berpandangan, salah satu pertimbangan mengapa lembaga perbankan belum menaikkan suku bunga, khususnya, kredit, karena kondisi itu dapat memberatkan pelaku usaha. Menurutnya, beban pelaku usaha kian berat karena mereka terbebani berbagai kenaikan, semisal BBM subsidi, tarif dasar listrik (TDL), dan upah pekerjanya. Seandainya perbankan tetap melakukan penyesuaian suku bunga tanpa disertai perhitungan dan pertimbangan, seru Arief, hal itu berpotensi membuat tingginya Non-Performing Loans (NPL) atau kredit bermasalah. (ADR)

Related posts