Bangun PLTA, Butuh Investasi Raksasa

jabartoday.com/erwin adriansyah
jabartoday.com/erwin adriansyah
JABARTODAY.COM – BANDUNG — Menjaga keandalan energi listrik menjadi opsi utama PT PLN (Persero). Karenanya, lembaga BUMN itu melakukan berbagai jurus. Di antaranya, memaksimalkan keberadaan sumber energi terbarukan, air.

Direktur Regional Jawa Bagian Tengah PT PLN (Persero), Nasri Sebayang, mengemukakan, sampai akhir Tahun 2025, pihaknya berencana melakukan penambahan kapasitas yang bersumber pada Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Kapasitasnya, 10.300 Mega Watt (MW) sehingga totalnya menjadi 14.300 MW. Sebagian besar, pihak swasta yang melakukan pengembangannya,” tandas Nasri, usai pembukaan Seminar Nasional Bendungan Besar dan Rapat Anggota Tahunan Komite Nasional Indonesia Bendungan Besar (KNI-BB) di Hotel Prama Preanger, Jalan Asia Afrika Bandung.

Nasri tidak membantah bahwa, untuk mewujudkan rencana itu butuh dana investasi raksasa. Menurutnya, dana kebutuhannya sekitar 1,5-2 juta dolar Amerika Serikat (AS) untuk setiap MW. “Tinggal kalikan saja, berapa kebutuhan investasinya,” ucapnya.

Diutarakan, pemanfaatan air sebagai sumber energi bukan tanpa dasar. Dia menyatakan, Indonesia memiliki potensi tenaga air yang besar yaitu sekitar 75.000 MW. Sayangnya, tambah Nasri, yang termanfaatkan sekitar 4.200 MW atau 6 persennya. Karena itu, tegas dia, melalui PT PLN dan dukungan pengembang swasta, pemerintah berencana membangjn PLTA hingga 2025, yang kapasitas terpasangnya, secara total, mencapai 14.300 MW.

Nasri mengungkapkan, saat ini, di Indonesia, terdapat beberapa PLTA dalam proses perencanaan dan pembangunan. Di Jabar, imbuh dia, ada proyek pembangunan PLTA dan bendungan bersistem pompa, yaitu PLTA Upper Cisokan berkapasitas 1.040 MW. Kemudian, tambahnya, Bendungan Serba Guna sekaligus PLTA Jatigede (110 MW), dan Bendungan Rajamandala (47 MW).

Selain Jabar, pembangunan PLTA juga berlangsung di provinsi lain. Yaitu, sebut dia, Bendungan PLTA Peusangan 1 dan 2 (86 MW), Bendungan PLTA Asahan 3 (174 MW), Bendungan PLTA Wampu (45 MW), Bendungan PLTA Batang Toru (510 MW), Bendungan PLTA Merangin (350 MW), dan Bendungan PLTA Semangka (56 MW). Itu semua, tuturnya, berlokasi di Sumatera.

Sedangkan di Sulawesi, sambungnya, yaitu Bendungan PLTA Poso (195 MW), Bendungan PLTA Malea (90 MW), Bendungan PLTA Karama (150 MW), dan Bendungan PLTA Bonto Batu (45 MW). Sementara di Papua, katanya, ada Bendungan PLTA Genyem (20 MW) dan PLTA Baliem (50 MW). (ADR)

Related posts