AEC Buka Peluang Pasar Produk Meubeul

jabartoday.com/net
jabartoday.com/net

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Agenda kerjasama ekonomi negara-negara ASEAN, atau ASEAN Economic Community (AEC) segera bergulir beberapa bulan lagi. Banyak ekonom yang menyatakan, ajang tersebut dapat menjadi sebuah peluang pasar yang menjanjikan bagi produk-produk Indonesia, termasuk Jabar.

“Benar. Ajang AEC sebenarnya menjadi peluang besar bagi industri mebel dan furniture. Artinya, ketika AEC bergulir, pasar lebih luas dan besar,” tandas Ketua DPD Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) Jabar, Adang Asep Mulyasari, belum lama ini.

Adang menjelaskan, saat ini, pasar domestik tergolong besar jika memperhatikan jumlah populasi negara ini, yaitu sekitar 250 juta jiwa. Bergulirnya AEC, lanjut dia, tentunya, memperbesar pangsa pasar. Di ASEAN, kata dia, populasi penduduknya sekitar 620 juta jiwa. Ini menunjukkan, kata dia, pangsa pasar yang lebih luas. “Apabila dapat termaksimalkan, tentunya, ini menjadi sebuah potensi pasar yang luar biasa. Terlebih produk mebel nasional punya kualitas yang lebih baik daripada produk negara-negara ASEAN,” sahut Adang.

Menurutnya, saat ini, bisnis furnitur naik daun. Data Kementerian Perindustrian, sebut Adang, menunjukkan, periode Januari-Maret 2015, industri furnitur nasional berumbuh 5,1 persen. Pertumbuhan itu dua kali lipat lebih besar daripada progress periode sama tahun sebelumnya. Tentunya, kata Adang, ini merupakan hal yang luar biasa mengingat industri nasional, secara keseluruhan, saat ini, kondisinya mengalami kelesuan.

Agar dapat meraih hasil optimal tatkala ajang AEC bergulir, Adang menyatakan, pemerintah tetap perlu turun tangan dalam beberapa hal. Misalnya, mengembangkan buffer stock bahan baku pada sentra-sentra industri mebel. Tidak itu saja, kata Adang, pemerintah pun sebaiknya lebih mendekatkan lokasi bahan baku dengan titik produksi dan buffer stock guna menjaga ketersediaan bahan baku. Ini supaya terjadi stabilitas harga jual.

Sebenarnya, ungkap Adang, pada era kepemimpinan Danny Setiawan, Jabar meneken nota kesepahaman (MoU) dengan Gubernur Riau saat itu, Fadel Muhammad. Isi MoU, tutur Adang, yaitu membangun gudang di wilayah Cirebon yang fungsinya sebagai buffer stock. “Kami tidak tahu mengapa program itu tidak berlanjut,” ujarnya.

Campur tangan pemerintah lainnya yaitu mengumpulkan informasi tentang kondisi pasar di negara-negara ASEAN. Caranya, jelas Adang, memanfaatkan keberadaan konsulat jenderal (konjen). “Nanti, konjen-konjen itu yang memberi informasi kepada para pelaku industri dan bisnis Jabar. Misalnya, jenis produk yang berprospek, seberapa besar pangsa pasar dan peluangnya, begitu pula tentang tren desain, dan sebagainya. Yah, semacam market intelejen. Jika para pebisnis di Jabar punya informasi itu, tentunya, AEC bukan lagi sebagai ancaman, melainkan peluang,” tutup Adang. (ADR)

Related posts