Ancaman 20 Tahun Bagi Bos Cipaganti

jabartoday.com/net
jabartoday.com/net

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Beberapa tahun lalu, Andianto Setiabudi merupakan sosok pebisnis yang begitu luar biasa dan cukup beken di tanah air. Itu karena Andi, sapaan akrabnya, merupakan pengusaha asal Kota Bandung yang meraih kesuksesan melalui bisnis travelnya, yaitu Cipaganti Group.

Namun, sepertinya, hal itu segera menjadi kenangan. Bagaimana tidak, Andi terjerembab karena tersandung perkara pidana. Sang bos harus berurusan dengan dunia hukum karena dugaan aksi penipuan dan penggelapan dana mitra Koperasi Cipaganti Karya Guna Persada.

Setelah melalui proses penyelidikan, saat ini, Andi menjalani persidangan yang memasuki fase penuntutan. Dalam persidangan yang berlangsung Kamis (18/6), Jaksa Penuntut Umum (JPU), Hartawan, mengajukan penuntutan berupa pidana penjara selama 20 tahun plus denda Rp 200 miliar. “Kami meminta majelis hakim menyatakan para terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan menipu melalui pendirian koperasi tanpa izin usaha. Kami pun meminta majelis hakim supaya menjatuhkan pidana penjara 20 tahun serta denda Rp 200 miliar,” tandas Hartawan di Ruang I Pengadilan Negeri Bandung, Jalan RE Martadinata Bandung.

Bahkan, sang isteri, Djulia Sri Redjeki, dan dua rekan lainnya, Yulianda Tjandrawati serta Cece Kadarisman, juga memperoleh tuntutan JPU dalam bentuk yang sama, yaitu pidana penjara 20 tahun. JPU menilai Andi dan tiga terdakwa lainnya melanggar Pasar Pasal 46 ayat (1) jo. Pasal 46 ayat (2) UU No 10/1998 tentang Perbankan jo. Pasal 59 ayat 1 KUHP jo. Pasal 64 ayat 1 KUHP. Serta Pasal 378 ayat 1 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo. Pasal 65 ayat (1) KUHP.

JPU berpendapat, ada beberapa hal yang memberatkan Andi. Di antaranya, sebut dia, saat menjawab dan memberi keterangan selama persidangan, terdakwa berbelit-belit. Selain itu, terdakwa pun merusak kepercayaan masyarakat. Bahkan, JPU beranggapan, selama persidangan, tidak ada satu pun hal yang meringankan para terdakwa.

Lalu, bagaimana dengan para mitra? Hartawan mengatakan, bila nanti hakim memutuskan vonis, para mitra dapat memanfaatkan vonis atau putusan hakim sebagai bahan mengajukan penggugatan secara perdata.

Seperti pemberitaan sebelumnya, pada 2006, masyarakat yang menjadi mitra KCKGP menyetor simpanan. Nilainya variatif, sekitar Rp 20 juta-Rp 1,5 miliar. Tahun pertama, terhimpun dana senilai Rp 3,65 miliar yang berumber pada 12 mitra. Pada 2008, dana yang terimpun lebih besar, yaitu Rp 46,3 miliar. Jumlah mitra pun bertambah menjadi 256 mitra. Lalu, pada 2009, penghimpunan dana menjadi Rp 187,2 miliar dan jumlah mitranya 994 mitra baru.

Tahun selanjutknya, mitra KCKGP bertambah menjadi 3.043 orang. Total investasinya mencapai Rp 565,7 miliar. Pada 2011, dana investasi makin berkembang. Nilainya menjadi Rp 933,2 miliar. Jumlah itu diinvestasikan 4.689 mitra. Selanjutnya, pada 2012 jumlah mitra naik menjadi 5.647 mitra. Total investasi pun berkembang menjadi Rp 1,25 triliun. Dua tahun lalu, KCKGP memiliki 7,012 mitra. Dana investasinya pun melambung menjadi Rp 1,5 triliun. (ADR)

Related posts