ADI Jabar Gelar Wisuda Angkatan 13, Deby Ekisha asal Riau Raih nilai IPK Tertinggi

Acara Wisuda
Foto; Istimewa

JABARTODAY.COM, BANDUNG BARAT – – Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Dewan Da’wah Jawa Barat menggelar kegiatan wisuda Angkatan ke-13 tahun 2026. Kegiatan penuh hikmah ini berlangsung di Aula Fatimah Al Hajiri Komplek Pusdiklat Dewan Da’wah Jabar di Desa Tanimulya Ngamprah Bandung Barat, Selasa (25/8/2026) bertepatan dengan 12 Rabi’ul Awwal 1448 H.

 

Dalam kesempatan tersebut sebanyak 11 wisudan/wati dari berbagai daerah di Indonesia berhasil di wisuda.

 

Dalam sambutannya Dr. Syarif Hidayat,M.Pd.I selaku Direktur ADI Jabar menyampaikan kepada para wisudan dan wisudawati agar meluruskan niat (niyat shahihah) karena hanya dengan niat lurus bisa istiqamah di jalan dakwah, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya seseorang itu akan memperoleh apa yang ia niatkan.” (HSR. Bukhari)

 

“Ananda, harus sadar bahwa selesai perkuliahan di ADI bukan selesai pula perjalanan untuk belajar. Ananda harus sadar bahwa diri Anda sebagai da’i. Apapun profesi yang akan digeluti di masa mendatang, maka tetap jatidiri Ananda sebagai dai; jadi dokter dokter yang dai, jadi insinyur insinyur yang da’i. Namun menjadi da’i harus dengan niat yang ikhlas sehingga melahirkan akhlak yang mulia dan ibadah yang benar,” pesannya.

 

Dr,Syarif menambahkan bahwa setelah diamalkan ilmu itu diajarkan kepada yang lain agar lebih berkembang, sebab ilmu yang diajarkan akan terus bertambah.

 

“Kami berharap, setelah lulus dari ADI lanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi hingga mencapai pendidikan di S2 dan S3 bak pepatah, sekali layar berkembang pantang mundur ke belakang. Dan juga sebagaimana dikatakan Pak Natsir, jangan berhenti tangan mendayung, berhenti berhenti berarti terbawa arus,”imbuhnya.

 

Terakhir Dr.Syarif berpesan bahwa pendidikan di ADI Jabar bukan sekedar transfer ilmu melainkan juga menanamkan adab sebab krisis hari ini persis seperti dikatakan Prof. Naquib Alatas adalah loss of Adab. Krisis adab ini terbukti dengan banyaknya pembunuhan seperti yang terjadi di Kabupaten Kuningan ada seorang anak membunuh ibu kandungnya, atau seperti di Sumatera seorang mantu membunuh mertua.

 

“Mirisnya, krisis adab ini bukan saja di lingkungan umum namun juga terjadi di lembaga-lembaga Pendidikan,”pungkasnya.

 

Sementara itu KH.Muhammad Roinul Balad.S.Sos.I selaku Ketua Dewan Da’wah Jabar dalam sambutannya menyampaikan bahwa sudah sejak lama Dewan Da’wah khususnya di Jawa Barat konsen mengkader da’i yang kemudian ditugaskan di Kota atau Kabupaten di wilayah Jawa Barat. Dimana salah satu alasannya menurut KH Roin, karena mayoritas beragama Islam, bahkan diperkirakan hingga 97 persen muslim.

 

“Kalau kita baca jumlah penduduk Provinsi Jawa Barat pada tahun 2026 berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai  sekira 51,16 juta jiwa. Kalau 97 persennya muslim berarti ada sekira 49 juta jiwa. Sementara kalau kita lihat data statistik penyeluh agama Islam di Jawa Barat itu paling hanya 5.000 orang,”ungkapnya.

 

Menurut KH Roin, dari jumlah perbandingan tersebut saja sudah tidak berimbang atau sangat jauh. Untuk itu Dewan Da’wah Jabar mencoba bagaimana ikut membantu pemerintah supaya pemahaman dan pengamalan keagamaan umat Islam itu terjaga dan terpelihara.

 

“Karena memang tantangan dakwah itu kuat. Sebagaimana Pak Natsir sampaikan itu ada kristenisasi, sekularisasi, dan natifisme. Jadi, untuk menghadang gerakan itu kan perlu da’i yang handal,” sambungnya.

 

Untuk itu Dewan Da’wah Jabar, sambungnya, konsen mengkader da’I yang tujuan utamanya memang ingin mewujudkan kehidupan masyarakat Jawa Barat yang Islami. Maka, poin yang terpenting atau yang terpenting itu ada faktornya adalah harus ada dai.

 

“Karena kadangkala kita suka mengkaitkan antara kemiskinan dengan kufuran gitu ya. Pada prinsipnya sebetulnya bukan kemiskinannya yang membuat kafir seseorang atau murtad. Tapi adanya peran misionaris yang mendatangi umat Islam. Karena pihak eksternal yang mendatangi umat Islam mengiming-imingi dengan berbagai macam cara. Akhirnya diajak masuk ke agama mereka. Nah untuk itulah maka kita mencoba ya meminimalisir itu semua dengan menghadirkan dai-daiyah di Tengah Masyarakat,” tegas KH Roin.

 

KH Roin menegaskan bahwa untuk melahirkan para dai yang Tangguh dan handal harus melalui proses pengkaderan dai ini harus struktur dan terukur. Maka, sambunnya, di Dewan Da’wah Jawa Barat pengkaderan dai itu sudah canangkan mulai dari tingkat TK, SD atau MI, MTS atau SMP. SMA atau Aliyiah kemudian Akademi Da’wah (ADI)  sampai Sekolah Tinggi (STID).

 

“Jadi ini bagian dari ikhtiar optima kita lah. Dan mereka sudah dibekali ilmu dan wawasan sehingga hanya sebatas untuk bertugas di daerah-daerah itu Insya Allah mereka sanggup. Tapi kita juga berupaya meningkatkan kualitas mereka yang dari Akademi Da’wah ini kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STID) Muhammad Nasir. Nanti setelah mereka selesai S1 juga mereka kita tugaskan dulu ke daerah 3T (Terluar, Terpencil, dan Tertinggal),”terangnya.

 

Setelah itu, sambung KH Roin, para dai-daiyah tersebut akan dikembalikan ke tempat asal mereka masing-masing. Hal ini supaya mereka berda’wah, mencerahkan umat, membimbing umat dalam ketaatan. Hal ini menyelamatkan umat dari upaya pemurtadan dan sekularisme tadi. Karena konsep da’wah binaan wadifaan.

 

“Binaan itu adalah membina, menerpak tentang keislaman supaya berilmu, berakhlak yang baik. Wadifaan itu membentengi atau membikin tameng supaya tidak dirusak. Ada peribahasa dalam bahasa Arab itu yang artinya, bagaimana suatu bangunan bisa terwujud dengan utuh apabila kamu membangunnya orang lain menghancurkannya,” terangnya.

 

Sebab, sambung KH Roin, cukup yang menghancurkan itu satu orang, walaupun yang membangunnya seribu orang. Maka bagi Dewan Da’wah ratusan bahkan ribuan dai pun yang ada tetap merasa kurang.

 

“Untuk itulah kita berkolaborasi. Saling membantu da’wah ini gak mungkin dipikul oleh satu orang per orang, atau satu kelompok, atau satu organisasi. Ini harus dipikul bersama. Maka Alhamdulillah kita bersinergi dengan orang mas lain Dewan Da’wah itu. Bersinergi dengan pemerintah juga, ada dari bajnas juga. Mungkin ada NGO lain, ada lembaga zakat lain,”ajaknya.

 

KH Roin juga menyampaikan bahwa hingga saat ini atau sejak awal berdirinya ADI Jabar, semua mahasiswanya full beasiswa dan berasrama. Sementara saat ini ADI Jabar sedang menyiapkan asrama ikhwan terpadu dengan membangun masjid yang lokasinya tak jauh dari Pusdiklat Dewan Da’wah saat ini.

 

“Kita punya tanah sekira 1000 meter. Kita sedang bangunkan masjid dan asrama. Untuk mereka mahasiswa ADI ikhwan. Harapannya kami bisa terus bekerjasama dengan Kemenag dan lembaga ZISWAF atau BAZNAS dan juga ormas lain. Yang mau menitipkan mahasiswanya kepada kami silahkan. Sekarang masih pendaptarannya untuk tahun ajaran yang sekarang. Kalau ada yang mau daftar masih bisa,”pungkasnya.

 

Sementara itu Dr. H. Ijang Faisal, S.Ag., M. Si. selaku Pimpinan Bidang Pengumpulan BAZNAS Prov. Jawa Barat dalam sambutannya menyampaikan bahwa Baznas sangat berbangga sekaligus mendukung keberadaan Akademi Da’wah ini sebagai kaderisasi dai.

 

“Karena memang di Jawa Barat ini perlu da’i banyak yang bukan hanya bisa ceramah di mimbar. Tapi juga perlu da’i yang memang mumpuni di lapangan untuk membina masyarakat dan juga mengarahkan masyarakat berbuat memlaksanakan keagamannya dengan benar. Ada pun terkait dengan tugas Baznas, bahwa Baznas mengumpulkan dan menyalurkan dana umat itu potensi Jawa Barat itu sangat besar,” ungkap H Ijang Faisal.

 

H Ijang Faisal menambahkan bahwa potensi zakat di Provinsi Jawa Barat sendiri mencapai Rp30,69 triliun per tahun, tetapi pengumpulannya atau penghimpunannya masih perlu terus ditingkatkan.

 

“Realisasi Penghimpunan (ZIS) sendiri di Jawa Barat baru mencapai Rp3,71 triliun hingga Rp4 triliun pada tahun 2025 lalu. Jadi potensinya masih sangat besar kalau bisa kita dioptimalkan. Ini Adalah salah satu tantangan sekaligus peluang bagi kita semua,” terangnya.

 

Untuk itu H.Ijang Faisal mengusulkan agar Akademi Da’wah Indonesia (ADI) Jabar ini bisa membuka Unit Pengumpul Zakat (UPZ) dalam pengumpulan dana umat supaya bisa melaksanakan program kaderisasi da’inya dengan mandiri dengan dana yang dikumpulkan dari umat Islam.

 

“Hari ini fenomenanya memang sebagian besar yang datang ke Baznas itu pada membawa proposal minta bantuan. Nah makanya mudah-mudahan dengan ADI Jabar ini bisa memberikan pencerahan ke masyarakat yang tadinya Mustahik menjadi Muzaki dan juga memberikan kepercayaan kepada UPZ didirikan di ADI Jabar dan masyarakat juga bisa langsung menitipkan  dana ZISnya di UPZ ADI Jabar atau Dewan Da’wah,”ajaknya.

 

Sementara itu Dr.Hadiyanto Abdurrahim selaku Badan Pertimbangan Dewan Da’wah Jawa Barat dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Dakwah Sebagai Senjata Dalam Perang Asimetris”  bahwa jika kita cermati, sasaran perang asimetris ini bukan sekadar wilayah atau kekayaan alam, melainkan tiga tiang penyangga eksistensi umat: aqidah, syariah, dan akhlaq. Hal ini sebagaimana Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah ayat 120: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu sampai engkau mengikuti agama mereka.”

 

“Ayat ini bukan mengajarkan permusuhan buta, melainkan kewaspadaan strategis terhadap agenda yang memang bertujuan mengubah cara pandang hidup kita. Mari kita telusuri satu per satu bagaimana ketiga front ini digempur, lengkap dengan data yang terverifikasi dari sumber-sumber resmi,”terangnya.

 

Dari sisi aqidah, menurut Dr Hadi dengan mengutip data Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mencatat lebih dari 300 aliran yang difatwakan menyimpang dari akidah Islam sejak era 1990-an hingga kini, dan hampir setiap tahun muncul aliran baru.

 

“Pada front syariah, kita menyaksikan apa yang disebut sebagai privatisasi syariat Islam — hukum Allah didorong hanya boleh hidup di ruang privat, di masjid dan rumah, tetapi disingkirkan dari ruang publik, ekonomi, hukum, dan politik. Ini persis skema yang oleh para pemikir dakwah disebut sebagai sekularisasi bertahap: mula-mula memisahkan agama dari negara, kemudian dari ekonomi, kemudian dari pendidikan, hingga akhirnya agama hanya tersisa sebagai ritual pribadi yang tak boleh bersuara di ruang publik. Padahal Islam, sebagaimana akan kita bahas lebih jauh, adalah ad-din yang mencakup seluruh sisi kehidupan,” sambungnya.

 

Sementara pada front akhlaq, Dr.Hadi menyampaikan datanya sungguh memilukan, dan di sinilah kita bisa melihat betapa sistemiknya serangan ini. Korupsi dan penjarahan kekayaan bangsa. Indonesia Corruption Watch mencatat sepanjang 2024 saja terjadi 364 kasus korupsi dengan total kerugian negara mencapai Rp279,9 triliun — sebagian besar dari kasus tata niaga timah yang merusak lingkungan dan menjarah kekayaan bangsa.

 

“Narkoba yang menyasar generasi muda. Badan Narkotika Nasional bersama BRIN dan BPS mencatat prevalensi penyalahgunaan narkoba meningkat dari 1,73 persen pada 2023 menjadi 2,11 persen pada 2025, setara sekitar 4,15 juta jiwa, dengan mayoritas korban adalah generasi muda usia produktif.

 

Belum lagi,sambung Dr.Hadi, masalahJudi daring (judi only/judol)  yang menembus rumah tangga hingga anak-anak. PPATK mencatat sepanjang 2025 perputaran dana judi online mencapai Rp286,84 triliun dari 422 juta transaksi, melibatkan belasan juta rekening deposit — bahkan tercatat anak-anak di bawah usia 10 tahun sudah terpapar judi daring.

 

“Pornografi digital yang menyerbu tanpa henti. Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat bahwa dalam periode 20 Oktober 2024 hingga Februari 2025 saja, sebanyak 187.865 konten pornografi berhasil ditapis, di luar 993.144 situs judi online yang diblokir pada periode yang sama. Pada periode sebelumnya, Januari hingga akhir Juni 2024, Kominfo bahkan mencatat sudah menangani sekitar 1 juta konten pornografi di media sosial. “imbuhnya.

 

Hal ini menurut Dr Hadi masih ditambah masalah rumah tangga yang goyah. Dimana Badan Pusat Statistik mencatat hampir 400 ribu perkara perceraian pada 2024, meningkat menjadi lebih dari 438 ribu kasus pada 2025, dengan ribuan di antaranya disebabkan langsung oleh perjudian, mabuk-mabukan, kekerasan dalam rumah tangga, dan perselingkuhan.

 

“Inilah wajah nyata dari serangan yang menyasar akidah, syariah, dan akhlaq umat secara bersamaan — bukan kebetulan, melainkan pola yang sistemik, yang bekerja di banyak front sekaligus, persis karakter perang asimetris yang kita bicarakan di awal. Maka inilah satu satu tugas para dai -daiyah ditengah Masyarakat,” pungkasnya.

 

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan sejumlah penghargaan kepada para wisudan-wasudawi antara lain:

 

Program Sertifikasi 5 Juz Al-Qur’an

  1. Deby Ekisha Seema wisudawati asal Tanjung Balai Karimun Kepulauan Riau
  2. ⁠Ayu Fauzatul A. Lajar wisudawati asal Alor NTT
  3. ⁠Hasna Ul Husna wisudawati asal Lembata NTT
  4. ⁠Aisyatunnida wisudawati asal Jambi,
  5. Salfia Taneo wisudawati asal Kupang NTT.

 

Hafalan Al- Qur’an terbanyak

  1. Deby Ekisha Seema wisudawati asal Tanjung Balai Karimun Kepulauan Riau dengan jumlah hafalan 11 Juz.

 

Program Sertifikasi 42 Hadits Arbain An-Nawawi

  1. Deby Ekisha Seema wisudawati asal Tanjung Balai Karimun Kepulauan Riau
  2. ⁠Hasna Ul Husna wisudawati asal Lembata NTT
  3. ⁠Ernawati Fallo asal Kupang NTT
  4. ⁠Aisyatunnida wisudawati asal Jambi
  5. ⁠Salfia Taneo wisudawati asal Kupang NTT
  6. ⁠Ayu Fauzatul A. Lajar wisudawati asal Alor NTT

 

Program Sertifikasi  Matan Tuhfatul Athfal

  1. Deby Ekisha Seema wisudawati asal Tanjung Balai Karimun Kepulauan Riau.

 

 

IPK tertinggi

  1. Deby Ekisha Seema wisudawati asal Tanjung Balai Karimun Kepulauan Riau dengan nilai IPK 3,96

 

 

Acara dihadiri sejumlah tamu undangan dari Kemenag Kab.Bandung Barat, Kades Tanimulya. [ ]

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *