
JABARTODAY.COM, BANDUNG – – Dukungan psikologis menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan penyintas kanker payudara setelah menjalani pengobatan. Perubahan kondisi tubuh, kekhawatiran terhadap kekambuhan, hingga persoalan emosional membuat dukungan psikologis tetap dibutuhkan. Hal ini menjadi perhatian dosen UNISA Bandung, Dewi Mustikaningsih, S.Kep., Ners., M.Kep., yang mengenalkan penggunaan media audiovisual dalam psikoedukasi kepada tenaga kesehatan di Puskesmas Kujangsari Kota Bandung.
Kegiatan bertajuk “Pelatihan dan Pendampingan Tenaga Kesehatan untuk Meningkatkan Kemampuan Psikoedukasi dengan Metode Audiovisual di Puskesmas Kujangsari Kota Bandung” dilaksanakan pada 28 Juli 2026. Dalam pelaksanaannya, Dewi melibatkan dua mahasiswa UNISA Bandung, Kesya Restivia, S.Kep. dan Putri Hafsha Salsabilla, S.Kep.
Inisiatif tersebut berangkat dari kondisi penyintas kanker payudara yang tidak hanya menghadapi tantangan fisik, tetapi juga persoalan psikologis setelah menjalani pengobatan. Perubahan bentuk tubuh, kecemasan terhadap kemungkinan kekambuhan, pemikiran negatif, perubahan emosi, hingga kesulitan beradaptasi menjadi beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam proses pemulihan.
Puskesmas Kujangsari selama ini memberikan pelayanan dan pemantauan kesehatan secara rutin kepada masyarakat. Namun, pemberian psikoedukasi yang lebih terstruktur serta penggunaan media yang dapat membantu penyintas memahami dan mengelola kondisi psikologis masih perlu dikembangkan.
Dewi mengenalkan media audiovisual sebagai salah satu cara untuk menyampaikan psikoedukasi secara lebih mudah dipahami. Perpaduan suara, gambar, animasi, dan informasi memungkinkan materi diberikan secara lebih komunikatif serta dapat digunakan kembali oleh penyintas ketika membutuhkan informasi maupun pengingat dalam menjalani proses pemulihan.
“Pemulihan bukan hanya tentang bagaimana seseorang sembuh secara fisik, tetapi juga bagaimana ia mampu beradaptasi secara psikologis, mengatasi pemikiran negatif, mengelola emosi, memperoleh dukungan psikologis, dan kembali menjalani kehidupannya dengan lebih percaya diri,” ujar Dewi, Jumat (04/09/2026).
Dalam pelatihan tersebut, tenaga kesehatan mendapatkan materi mengenai pendampingan penyintas kanker payudara, mulai dari kemampuan beradaptasi setelah mastektomi, perawatan diri, pengelolaan pemikiran negatif dan emosi, hingga pentingnya mencari bantuan serta dukungan psikologis ketika dibutuhkan.
Tidak berhenti pada pemberian materi, kegiatan dilanjutkan dengan pendampingan agar tenaga kesehatan dapat memahami cara menggunakan media audiovisual dalam pelayanan. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu tenaga kesehatan menyampaikan informasi psikologis secara lebih terarah, interaktif, dan sesuai dengan kondisi penyintas.
Melalui kegiatan ini, UNISA Bandung turut membawa pendekatan kesehatan yang tidak hanya melihat proses pemulihan dari sisi fisik. Kemampuan tenaga kesehatan dalam memberikan psikoedukasi diharapkan dapat membantu penyintas meningkatkan pemahaman mengenai kondisi dirinya, mengelola tekanan psikologis, serta menjalani kehidupan setelah pengobatan dengan lebih percaya diri.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari kontribusi dosen dan mahasiswa UNISA Bandung dalam menghadirkan pengetahuan perguruan tinggi di tengah kebutuhan masyarakat. Pendampingan yang memadukan aspek fisik, psikologis, dan sosial diharapkan dapat menjadi bagian dari pelayanan kesehatan yang semakin dekat dengan kebutuhan penyintas kanker payudara.[ ]





