AEC, Produk Industri Kreatif Harus Lebih Branding

jabartoday.com/net
jabartoday.com/net
JABARTODAY.COM – BANDUNG — Melakukan branding menjadi salah salah satu aspek dan unsur penting dalam dunia usaha. Apalagi, pada 2016, persaingan ekonomi kian ketat seiring dengan bergulirnya agenda kerjasama ekonomi negara-negara ASEAN, yang terbalut dalam ASEAN Economic Community (AEC).

Karenanya, produk-produk lokal, termasuk yang dihasilkan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perlu melakukan berbagai upaya branding yang lebih efektif lagi. “Branding pun perlu dilakukan para pelaku UMKM yang bergerak dalam bidang industri kreatif,” tandas pakar ekonomi kreatif, Popy Rufaedah, pada Diskusi Momentum Kebangkitan Industri Kreatif Jabar Menuju Kancah Internasional di Hotel Horison, Jalan Pelajar Pejuang 45 Bandung, belum lama ini.

Wanita berhijab ini meneruskan, adanya agenda AEC itu, sebaiknya, para pelaku UMKM industri kreatif harus mulai melakukan branding produk-produknya. Hal itu, jelasnya, sebagai upaya untuk meningkatkan daya saing produknya sehingga dapat diterima pasar global. Agar branding beragam produk industri kreatif lebih efektif, lanjut Popy, perlu adanya sinergitas seluruh stake holder, yaitu antara lain, akademisi, birokrat, pemerintah, komunitas, dan media massa.

Menurutnya, sebuah produk berkualitas tinggi tetapi sangat minim branding, tentunya, tetap sulit berdaya saing. Menurut Popy, dalam keseharian terdapat beragam aneka brand. “Mulai aktivitas yang paling sering dilakukan, seperti mandi, berbusana, beraktivitas, sampai kembali ke tempat tidur semuanya dipenuhi brand. Contoh sederhana, saat menyikat gigi, tidak lagi menyebut pasta gigi. Tapi, lebih pada merk-merk pasta gigi tertentutertentu. Jadi, UMKM perlu melakukan branding jika ingin penetrasi pasar internasional,” paparnya..

Pada kesempatan yang sama Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, mengajak kalangan pengusaha tatar Pasundan untuk mengembangkan bisnis secara komprehensif, yaitu mengembangkan pola hulu-hilir. “Banyak negara yang mengembangkan pola hulu-hilir. Satu di antaranya, Korea Selatan. Melalui skema itu, Korea Selatan surplus lapangan pekerjaan. Tidak heran, Korea Selatan sering mencari tenaga dari negara lain, termasuk Indonesia,” ujar Aher, sapaan akrabnya.

Sisi lain, imbuhnya, pengembangan hulu-hilir sektor industri dapat melahirkan pengusaha baru. Karenanya, pengembangan, pemanfaatan, dan pemaksimalan hulu-hilir menjadi strategis. Pasalnya, sahut Aher, jumlah pengusaha di Indonesia masih sedikit. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM), tutur Aher, jumlahnya sekitar 1,2 persen penduduk Indonesia. Ini, lanjutnya, angka yang belum mencapai level ideal, yaitu 4 persen. (ADR)

Related posts