
Berkomentar tentang hal itu, ekonomi Universitas Pasundan (Unpas), Acuviarta Kartibi, menyatakan, kehadiran dua sarana infrastruktur itu dapat berefek positif bagi pertumbuhan ekonomi, tidak hanya Jabar, tetapi daerah wilayah Cirebon dan sekitarnya. Acu memperkirakan, pertumbuhan ekonomi di wilayah itu apabila dua sarana infrastruktur tersebut tuntas dan beroperasi, mencapai 1,5 persen. “Dampaknya, wilayah tersebut memberi kontribusi besar bagi pertumbuhan Jabar,” tandas Acu, sapaan akrabnya, usai Diskusi Ikatan Sarjana Indonesia (ISEI) Jabar di Lantai 9 PT Bank Pembangunan Daerah Jabar-Banten Tbk alias bank bjb, Jalan Naripan Bandung, Rabu (11/11).
Lalu, bagaimana dengan daerah-daerah yang bukan menjadi tujuan atau terlintasi ruas tol Cisumdawu, seperti Sumedang? Acu menilai, sebenarnya, kehadiran BIJB dan Cisumdawu bukan menjadi ancaman bagi Sumedang. Namun, kata Acu, agar ekonomi Sumedang dan sekitarnya tetap bergerak dan tumbuh, tentunya, perlu peran pemerintah daerah, dalam hal ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumedang.
“Pemkab Sumedang harus siap. Artinya, harus mempersiapkan segala sesuatunya. Apa yang menjadi daya tarik dan kekuatan ekonomi Sumedang sehingga daerah itu pun menjadi daerah tujuan, tidak hanya perlintasan,” papar Acu.
Sejauh ini, tutur Acu, Kabupaten Sumedang punya potensi ekonomi yang besar, tidak hanya dalam hal produk oleh-oleh, tetapi juga yang lainnya. Misalnya, pariwisata, dan sebagainya. Untuk itu, tegas Acu, Pemkab Sumedang harus meng-create wilayah tersebut agar memiliki daya tarik besar.
Selain itu, lanjutnya, sebaiknya, lakukan sinergtias dengan pemerintah-pemerintah sekitarnya, seperti Kabupaten Majalengka, Kabupaten Bandung, Cirebon, dan lainnya. Itu supaya, jelasnya, terjadi integrasi sehingga kehadiran BIJB dan Cisumdawu dapat berefek positif bagi seluruh publik Jabar. (ADR)





