Home » Pilihan Redaksi » Tradisi Lebaran Puluhan Tahun Yang Masih Terjaga

Tradisi Lebaran Puluhan Tahun Yang Masih Terjaga

Suasana lebaran di keluarga besar Muhammad Kasim, Sabtu (10/8). Tradisi puluhan tahun masih terjaga di rumah peninggalan Belanda ini. (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

Suasana lebaran di keluarga besar Muhammad Kasim, Sabtu (10/8). Tradisi puluhan tahun masih terjaga di rumah peninggalan Belanda ini. (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Tradisi puluhan tahun di keluarga Muhammad Kasim, salah satu pendiri masjid terbesar di Kota Bandung, Masjid Istiqamah, masih terjaga hingga kini. Itu terlihat dari acara yang diadakan oleh anak-anak almarhum di kediamannya di Jalan Banda 10 di hari ketiga Idul Fitri, Sabtu (10/8).

Rumah yang telah ditempati sekitar 50 tahun itu menjadi lokasi tradisi keluarga besar Kasim menjalin silaturahmi dengan saudara-saudaranya yang mayoritas bermukim di Jakarta. Budaya yang tidak hilang adalah cium tangan alias pembagian uang dari orang yang sudah bekerja atau menikah kepada anak-anak kecil yang jumlahnya tergantung pemberi. Acara ini selalu ditunggu oleh para anak kecil atau cucu dan cicit dari Muhammad Kasim.

Muhammad Kasim sendiri sudah berpulang pada 1966 lalu, disusul oleh istrinya Fatimah di 2005. Sehingga, hanya anak-anak mereka yang terus menjaga tradisi dan kekerabatan di keluarga besar ini. Seperti dikatakan, Emmi Darman, anak almarhum, acara cium tangan bukan untuk riya’ atau pamer, tapi sekedar berbagi kesenangan pada para ponakan, cucu, hingga cicit.

“Kan ini acara yang paling ditunggu. Biar anak-anak kecil senang aja,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Sabtu siang.

Tiap tahun sendiri ada tema untuk kostum, tahun ini sendiri, para kerabat diwajibkan memakai busana berwarna biru apapun jenisnya. Menurut Etty Darisan, penentuan baju ini untuk memeriahkan suasana saja, tidak ada maksud tertentu di dalamnya. “Biar rame aja. Makin norak, makin seru. Ga ada tujuan apa-apa,” ucap anak perempuan almarhum ini.

Yang paling ditunggu keluarga adalah hidangan yang disajikan, bukan rendang atau ketupat. Tapi gulai otak, salah satu santapan khas Sumatera Barat, asal Muhammad Kasim. Tiap tahunnya, sajian itu selalu menjadi rebutan keluarga atau tamu yang hadir dalam acara itu.

“Ada wacana tahun sekarang terakhir diadakan. Tapi kita lihat aja tahun depan, soalnya masih sebatas wacana,” tandas Emmi mengenai keberlangsungan tradisi ke depannya. (VIL)

Komentar

komentar