Home » Bandung Raya » Divonis 7 Tahun Penjara Dalam Kasus Bansos, Toto Hutagalung: Berat

Divonis 7 Tahun Penjara Dalam Kasus Bansos, Toto Hutagalung: Berat

Terdakwa kasus suap Dana Bantuan Sosial Kota Bandung, Toto Hutagalung, berbincang dengan kuasa hukumnya di Ruang Sidang I Pengadilan Negeri Bandung, Senin (16/12). Toto divoni 7 tahun penjara karena dianggap telah mencederai lembaga peradilan. (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

Terdakwa kasus suap Dana Bantuan Sosial Kota Bandung, Toto Hutagalung, berbincang dengan kuasa hukumnya di Ruang Sidang I Pengadilan Negeri Bandung, Senin (16/12). Toto divoni 7 tahun penjara karena dianggap telah mencederai lembaga peradilan. (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Meskipun tidak secara langsung, majelis hakim dan pengunjuk rasa sepakat apa yang dilakukan Setyabudi Tedjocahyono cs mencederai lembaga peradilan. Setyabudi adalah mantan Wakil Ketua Pengadilan Negeri Bandung yang menjadi terdakwa dalam kasus dugaan suap perkara Dana Bantuan Sosial Kota Bandung bersama-sama dengan Herry Nurhayat, Toto Hutagalung, dan Asep Triana.

Dalam sidang yang digelar di Ruang Sidang I PN Bandung, Senin (16/12), Toto dan Asep divonis masing-masing 7 dan 3,5 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung. Keduanya dianggap telah melakukan tindak pidana korupsi yang diatur dalam Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 6 ayat (1) UU No 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 64 jo. Pasal 55 KUHP.

“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa karena telah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berkelanjutan,” ucap Hakim Ketua, Nur Hakim, dalam amar putusannya.

Selain penjara, keduanya dikenakan denda senilai Rp 200 juta yang bila tidak dibayar diganti kurungan 3 bulan untuk Toto dan 2 bulan bagi Asep. Vonis ini sendiri lebih ringan dari tuntutan jaksa yang sebesar 10 dan 5 tahun penjara.

“Hal yang memberatkan perbuatan terdakwa telah mencederai lembaga peradilan. Hal yang meringankan terdakwa mengakui dan menyesali perbuatannya,” sambung Nur Hakim.

Atas putusan tersebut, baik Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi dan terdakwa, mengajukan pikir-pikir. Toto sendiri yang ditemui usai sidang, tidak menepis bila putusan yang dijatuhkan berat. “Berat pasti berat. Setiap hari juga berat,” ujar Ketua Ormas Gasibu Pajajaran tersebut.

Sidang sendiri diwarnai oleh unjuk rasa dari Gerakan Ganyang Mafia Hukum. Dalam rilisnya, mereka menyebut, perbuatan para terdakwa tersebut telah mencederai lembaga peradilan yang agung. Mereka juga meminta agar Setyabudi dihukum mati. Selama sidang, massa yang dihadiri Dedi Sugarda, pelaku pembacok Jaksa Sistoyo, berteriak-teriak meminta agar koruptor dihukum seberat-beratnya.

Setyabudi, Toto, Asep, dan Herry, didakwa oleh KPK terkait kasus suap atas putusan terhadap para tersangka Dana Bansos Kota Bandung. Herry sendiri hanya mengeluarkan uang karena diperintah Dada Rosada dan mantan Sekretaris Daerah Kota Bandung Edi Siswadi. Uang itu diberikan kepada Setyabudi sebagai balas budi atas putusan juga pengurusan perkara di tingkat banding.

Toto dan Asep ditangkap usai Setyabudi diciduk di ruang kerjanya karena tertangkap tangan menerima uang dari Asep Triana pada Maret 2013. (VIL)

Komentar

komentar