Home » Hukum » Kejari Karawang Tetapkan Wadir RSUD Kabupaten Karawang Tersangka Korupsi

Kejari Karawang Tetapkan Wadir RSUD Kabupaten Karawang Tersangka Korupsi

Aksi korupsi. (ILUSTRASI)

Aksi korupsi. (ILUSTRASI)

JABARTODAY – KARAWANG

Kejaksaan Negeri Karawang telah menetapkan 4 tersangka yang diduga terlibat korupsi pengadaan alat pembangkit tenaga listrik atau genset di Rumah Sakit Umum Daerah Karawang, yaitu Wakil Direktur RSUD IL;  Pejabat Pembuat Komitmen RSUD H, serta 2 kontraktor, yakni PS dan HTS.

“Kita telah tetapkan beberapa tersangka yang diduga terlibat dalam dugaan mark-up pengadaan genset hingga menimbulkan kerugian negara,” ujar Kepala Seksi Intelijen Kejari Karawang Faisol, di kantornya, Jalan Jaksa R. Soeprapto, Senin (11/11).

Kejaksaan sendiri telah menetapkan keempatnya sebagai tersangka pada akhir Oktober 2013 lalu. Kasi Intel melanjutkan, bahwa pada 29 Oktober 2013, pihaknya mengeluarkan surat dengan No Print 04/0.2.18/Fd.1/10/2013 yang isinya menetapkan IL dan H sebagai tersangka.

Selain kedua pejabat itu, Kejari juga menetapkan dua orang kontraktor yaitu PS dan HTS sebagai tersangka sesuai dengan surat No. Print 03/0.2.18/Fd.1/10/2013. “Hasil pemeriksaan ada indikasi kerugian negara sesuai dengan hasil audit  BPKP (Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan ) dan tim ahli dari Institut Teknologi Bandung, sekitar Rp. 400 juta,” ungkapnya.

Faisol mengemukakan alasan pihaknya menetapkan keempatnya sebagai tersangka. Mereka diduga melakukan pengadaan barang yang tidak sesuai serta membuat trik seolah-olah pengadaan tersebut telah berlangsung sesuai dengan ketentuan dan program.

Faisol menegaskan seluruh personel Kejari Karawang tetap konsisten menyelesaikan semua perkara dan kasus tindak pidana korupsi yang saat ini dalam proses. Selain kasus genset, kasus tindak pidana korupsi lainnya di RSUD Kabupaten Karawang, seperti pengadaan seragam dan alat kesehatan lainnya dipastikan tuntas. “Untuk perkara lainnya masih dalam proses,” ucapnya.

Dalam perkara ini, pihaknya pun akan terus melakukan pengembangan dengan memeriksa para tersangka. Sehingga menurutnya tidak menutup kemungkinan jumlah tersangka akan bertambah. “Semua tersangka akan kita periksa lagi. Kita akan mendalami dari tersangka ini, kemungkinan ada tersangka lain,” tukasnya.

Di tempat terpisah, kuasa hukum IL, Yono Kurniawan mengatakan, kliennya telah menjadi korban konspirasi pihak kejaksaan dengan Direktur Utama RSUD, dr. Wuwuh Utaminingtyas. “Dari segi materi hukum klien saya tidak bisa disalahkan. Sebab, semua permasalahan dalam kasus tersebut merupakan tanggung jawab Dirut,” seru Yono.

Yono menuturkan, tersangka IL  hanya berperan sebagai kuasa pengguna anggaran. Sementara pengguna anggarannya adalah Dirut RSUD. Dalam perkara tersebut, KPA tidak terlibat langsung saat proses lelang dilaksanakan. Panitia lelang hanya  melaporkan hasil kerjanya kepada PA tanpa melalui KPA. Bahkan KPA juga tidak mengetahui soal penentuan pemenang proyek karena hal itu merupakan tugas panitia lelang. “Klien kami hanya melakukan pembayaran sesuai arahan dari PA,” terangnya.

Yono merasa aneh, saat kasus tersebut mencuat, kliennya yang disalahkan, bahkan ditetapkan menjadi tersangka oleh Kejari Karawang. Sementara PA yang sangat bertanggung jawab dalam kasus tersebut tidak disentuh sama sekali.

Lebih lanjut, ia menyebut, Kepala Kejari Karawang Ganora Zarina diduga kuat tidak berani menetapkan Dirut RSUD sebagai tersangka karena yang bersangkutan telah menerima dana dan hadiah dari yang bersangkutan.”Kami mengantongi bukti-bukti kuat atas indikasi tersebut,” lanjut Yono.

Barang bukti itu berupa bukti transfer uang sebesar Rp 50 juta dari Bagian Keuangan RSUD kepada CV. Dinar Rizky Utama yang merupakan perantara penerimaan uang. Selanjutnya uang sebesar itu diserahkan kepada Kajari Karawang.

Yono mengimbuhkan, selain mengirim uang, Wuwuh pun diketahui beberapa kali memberi hadiah untuk Ganora. Diantaranya, tas seharga Rp 2,8 juta dan parcel lebaran seharga Rp 1,3 juta. “Bukti-bukti itu ada pada kami,” ujar Yono seraya memperlihatkan kuitansi pembelian tas dan parcel, juga bukti transfer melalui bank bjb. (RHO)

Komentar

komentar