Home » Hukum » Beda Kerugian Negara, Kuasa Hukum Minta Dakwaan Dibaca Ulang

Beda Kerugian Negara, Kuasa Hukum Minta Dakwaan Dibaca Ulang

IMG01612-20130530-1238JABARTODAY.COM – BANDUNG

Modus memenangkan perusahaan rekanan dalam tender kembali terjadi, ini terlihat dari dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Bandung kepada ketiga terdakwa dugaan mark-up pengadaan genset PT Kereta Api Indonesia pada sidang yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung, Kamis (30/5).

Mantan Kepala Daerah Operasional IV Semarang, Arief Wahyudi, bersama 2 rekanannya Margan Salum dan Julius Marangkap Parulian Aritonang, dituduh telah menggelapkan dana lebih dari Rp 3 miliar. Korupsi terjadi saat Arief masih menduduki posisi Kepala Bidang Sarana PT KAI di tahun 2008-2009.

“Ada pengadaan genset sebanyak 5 unit untuk PT KAI yang dimenangkan CV Buana dan CV Muara yang barangnya sendiri dihubungkan dari PT Trakindo Utama Jakarta. Disitu ada selisih harga, ada mark-up didalamnya,” ujar JPU Lucky di Ruang Sidang I Pengadilan Negeri Bandung.

Masing-masing terdakwa memiliki kerugian negara yang berbeda. Julius sendiri hanya meminjam CV Buana dan mendapatkan fee Rp 180 juta, bahkan sebelum tender dimulai, dirinya telah merekayasa untuk memenangkan perusahaan dalam tender. Uang sendiri digunakan untuk kepentingan Julius sendiri.

Dengan cara itu, mereka diduga berhasil meraup uang negara lebih dari Rp 2,5 miliar. Disebabkan, anggaran yang disiapkan PT KAI sekitar Rp 6,9 miliar yang mestinya bisa mendapat 11 unit genset. Namun Arief hanya membeli 5 unit.

Atas perbuatannya ketiga terdakwa dikenakan Pasal 2 dan 3 UU No 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 18 jo. Pasal 55 KUHP dan terancam hukuman 20 tahun penjara.

Ketiga terdakwa kompak tidak mengajukan eksepsi atau nota keberatan atas dakwaan jaksa tersebut. Maka itu, persidangan akan dilanjutkan pada Senin (10/6) dengan agenda mendengarkan keterangan saksi-saksi.

Sidang sendiri sempat diwarnai pembacaan ulang dakwaan untuk Julius dan Margan karena adanya perbedaan kerugian negara dan isi dakwaan yang tidak sama dengan Arief. Atas permintaan kuasa hukum terdakwa, JPU Agus Muljoko dan Magdalena membacakan dakwaan keduanya dari awal hingga akhir. (VIL)

Komentar

komentar