Home » Ekonomi » Buyers AS Tunda Kontrak, Eksportir Jabar Meradang

Buyers AS Tunda Kontrak, Eksportir Jabar Meradang

deddy widjayaJABARTODAY.COM – BANDUNG

Beberapa waktu lalu, pemerintah Amerika Serikat melakukan sebuah langkah mengejutkan. Mereka melakukan shut down. Sekitar 800 ribu pegawai negeri pemerintah negari adidaya itu dirumahkan. Tentunya, hal itu berefek besar pada sistem ekonomi global. “Apa yang terjadi di Amerika berpengaruh besar pada ekonomi dunia, terutama, perdagangan luar negeri (ekspor-impor),” ujar Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Indonesia Jawa Barat, Deddy Widjaya, Jumat (4/10).

Deddy mengatakan, kondisi terkini di AS itu membuat kinerja ekspor nasional, terutama Jabar, berpotensi menjadi lesu. Menurutnya, apa yang terjadi di AS itu membuat masyarakat negara itu mengurangi kebutuhan konsumtifnya. “Akibatnya banyak buyer di AS melakukan penundaan kontrak dengan industri di Jabar,” keluhnya.

Situasi itu, sambung Deddy, jelas sangat tidak menguntungkan bagi para pelaku usaha yang berorientasi ekspor. Pasalnya, jelas Deddy, komoditi-komoditi ekspor itu tidak terserap pasar. Sejauh ini, katanya, cukup banyak komoditi dan produk Jabar yang terserap pasar AS.

Misalnya, sebut Deddy, komoditi tekstil dan produk tekstil. Lalu, lanjutnya, alas kaki, seperti sepatu. Berikutnya, produk-produk elektronik. Termasuk, komoditi-komoditi holtikultura. Deddy memperkirakan, kondisi yang terjadi di AS berlangsung cukup lama. “Saya kira, hal ini dapat berlangsung selama beberapa pekan. Bahkan, bisa saja, ini terjadi hingga 1 bulan,” prediksi Deddy.

Tentu saja, sambung Deddy, kondisi tersebut membuat industri-industri meradang. Artinya, terang Deddy, industri-industri Jabar yang berorientasi ekspor mengalami kerugian. Dia berpendapat, jika situasi ini berlangsung hingga 1 bulan diperkirakan kerugian dapat mencapai miliaran dollar AS.

Mengenai kemungkinan mencari pasar ekspor yang baru, Deddy berpandangan, hal itu bukan perkara mudah. Pasalnya, jelas Deddy, hampir seluruh negara memiliki ketergantungan besar pada AS. Sebut saja, katanya, Jepang, Cina, negara-negara Uni Eropa, dan lainnya. “Jika AS batuk, tentunya, banyak negara di dunia turut mengalami gejalanya. Artinya, sulit mencari pasar ekspor yang baru, tidak terkecuali bagi Jabar,” tandasnya. (VIL)

Komentar

komentar