Home » Ekonomi » Rupiah Lemah, Perajin Tahu-Tempe Stop Produksi

Rupiah Lemah, Perajin Tahu-Tempe Stop Produksi

kedelaiJABARTODAY.COM – BANDUNG

Melemahnya rupiah terhadap US dollar berpengaruh pada harga jual beberapa komoditi nasional, terutama kedelai. Ketua Koperasi Perajin Tahu Tempe Indonesia Jawa Barat, Asep Nurdin, membenarkan bahwa harga jual kedelai dalam beberapa hari terakhir naik drastis. “Pada level pengecer harga kedelai Rp 9.000 per kilogram. Sedangkan level importir Rp 8.850 per kilogram,” ujar Asep, saat dihubungi, Sabtu (24/8).

Asep menilai kondisi saat ini lebih parah daripada kenaikan beberapa waktu lalu. Saat itu, menurutnya, harga memang naik, tapi pasokan tergolong aman. “Yang terjadi sekarang, harga mahal, pasokan minim,” keluhnya.

Asep menambahkan, adanya kondisi ini membuat tidak sedikit para perajin tahu-tempe yang stop produksi. Berdasarkan informasi yang dia dapat, hal itu terjadi sejak 2-3 hari lalu. “Ada surat mengenai berhentinya produksi para perajin itu,” ungkapnya.

Diutarakan Asep, para perajin yang stop produksi adalah yang kapasitas produksinya maksimal 50 kg/hari. Pasalnya, jelas dia, mereka tidak sanggup lagi menanggung biaya operasional yang tinggi.

Asep mengaku belum mengetahui secara pasti berapa jumlah perajin yang akhirnya stop produksi. Meski begitu, perkiraannya cukup banyak.

Di Jawa Barat sendiri jumlah perajin yang tercatat sebagai anggota KOPTI sekitar 10 ribu orang. Asep memperkirakan, jumlah perajin tahu tempe yang produksinya tidak melebihi 50 kg/hari sekitar 1000 orang.

Ia berpendapat, jika pemerintah tidak melakukan upaya strategis untuk menyikapi pelemahan rupiah, pihaknya mengkhawatirkan harga kedelai terus meninggi. Apalagi mengingat kedelai merupakan komoditi yang diimpor para perajin.

“Kami ingin, harga jual kedelai tidak lagi naik. Untuk itu, kami harap pemerintah segera bersikap dan bertindak strategis dalam mengatasi permasalahan ini,” tegas Asep. (ERA)

Komentar

komentar