Home » Bandung Raya » Penukar Uang Receh Tidak Patok Persenan

Penukar Uang Receh Tidak Patok Persenan

Penukar uang receh yang marak menjelang Idul Fitri sedang menawarkan jasanya di sepanjang jalan Merdeka, Jumat (2/8). (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

Penukar uang receh yang marak menjelang Idul Fitri sedang menawarkan jasanya di sepanjang jalan Merdeka, Jumat (2/8). (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Seperti biasa menjelang lebaran muncul penjaja jasa musiman yaitu penukar uang receh di pinggir-pinggir jalan. Salah satunya adalah Joni (40), pria asal Sumatera Utara yang baru dua kali ini melakukan profesi tersebut. Dirinya mengaku tidak memiliki pekerjaan tetap, sehingga apapun dia kerjakan selama menghasilkan uang.

“Ga tetap (kerjaannya). Tapi kan mumpung sekarang orang lagi butuh (uang receh) yang jalanin aja. Hitung-hitung ngebantu,” ujar Joni saat ditemui di depan Balaikota Bandung, Jumat (2/8).

Dari Joni sendiri diketahui bahwa para penukar uang receh tidak menetapkan persenan untuk dirinya kepada para konsumen. Persenan sendiri tergantung deal masing-masing pihak. Selama ini masyarakat mengetahui, persen untuk para penukar uang receh adalah 10%.

“Kadang 1 persen, tapi sekarang minimal 5 persen. Ga mungkin kan orang nukar Rp 30 juta, ngasinya Rp 100 ribu. Jadi hati ke hati aja,” paparnya.

Termasuk soal keuntungan juga tidak tentu, ia menyebut, bisa mencapai Rp 2 juta bila sedang ramai. Tahun lalu saja dirinya mendapatkan omzet Rp 1,5 juta. Joni memprediksi tahun sekarang keuntungan yang ia dan rekan-rekannya dapat akan menurun.

“Ya orang udah nukar sendiri, bank-bank juga udah ada yang sediain penukaran uang. Belum ditambah kenaikan BBM (bahan bakar minyak). Kayaknya sih bakal menurun,” ucap pria yang menggunakan topi itu.

Saat disinggung dari mana duit yang ia gunakan untuk ditukar kepada pihak bank dan dijajakan kepada masyarakat Kota Bandung, Joni menuturkan, ada bandar yang membiayai itu semua. Adiknya sendiri menjadi bandar bagi Joni.

“Sama aja sih. Sama kayak yang mau nukar uang, tergantung kesepakatannya. Ga ada ketentuan harus bagi berapa persen keuntungannya,” terangnya saat ditanya keuntungan untuk sang bandar.

Ia sendiri mengklaim pekerjaan yang dilakukan baik, karena membantu orang. Dan, menurutnya, hingga saat ini, belum pernah terjadi konflik sesama para penukar uang receh. (VIL)

Komentar

komentar