Universitas Trilogi Adakan Kajian Politik Etnisitas

2JABARTODAY.COM – JAKARTA

Sejarah telah mencatat lahirnya Kebangkitan Nasional merupakan akumulasi dari bangkitnya semangat persatuan dan kesatuan. Bahkan sejarah yang kemudian diperingati setiap 20 Mei ini juga menjadi salah satu landasan tercetusnya ikrar Sumpah Pemuda dan Proklamasi Kemerdekaan Repubulik Indonesia tahun 1945.

Artinya ketika nasionalisme telah menyatu tanpa melihat perbedaan lokalitas, kekuatan membangun bangsa pasti akan mudah tercapai. Sebaliknya, jika kita terus meributkan diri dengan ‘perbedaan’ yang ada pada lokalitas tersebut. Dapat dipastikan semangat persatuan dan kesatuan yang akhirnya bisa mendeklarasikan kemerdekaan bangsa itu akan sulit terwujud kembali.

Melihat realiatas inilah dan sekaligus mengambil momentum Hari Kebangkitan Nasional, Universitas Trilogi Jakarta melakukan bedah buku yang berjudul ‘Politik Etnik’. Rektor Universitas Trilogi Prof. Dr. Asep Saefuddin mengatakan, dengan mengangkat tema politik etnik di momen Harkitnas diharapkan akan membuka cakrawala bersama, sehingga perbedaan yang ada bisa dikelola dan berdayaguna.

“Selain membuka wawasan, dengan bedah buku ini kita juga akan mengetahui bahwa politik etnik kalau tidak dikelola dengan baik akan sangat berbahaya sekali. Perbedaan-perbedaan yang ada tersebut harus dikelola dengan seoptimal mungkin,” jelas Asep.

Selanjutnya Doktor bidang biostatistika jebolan Guelph University di Kanada itu juga menegaskan bahwa monokulturalism dalam artian memaksakan ‘satu warna’ terkhususnya dalam pendidikan tidaklah bagus. Ini semua hanya akan menghentikan kreatifitas.

“Monokulturalism dalam pendidikan tidaklah bagus karena akan menyebabkan kreatifitas yang harusnya muncul akan terhenti, padahal arah berpikir yang berbeda akan menyebabkan munculnya ruang interaksi untuk saling tukar pikiran. Kemudian bisa meningkatkan kreatifitas itu” tegasnya.

Untuk diketahui, buku karangan Dr. Sofyan Sjaf yang dibedah ini pada prinsipnya ingin menjawab pertanyaan besar yang diantaranya mengenai mengapa negara seolah terjebak ingin “menghapuskan” realitas etnisitas, termasuk ketika berdemokrasi. Lebih lanjut juga ingin menjelaskan bisakah entitas dihapuskan, lalu bagaimana relasi antara politik dengan etnitisitas yang kemudian membentuk poltik etnik itu. Termasuk juga bagaimana mengkanalisasi politik etnik di Indonesia.

Adanya ketimpangan etnisitas diantaranya berupa praktik dominasi bias etnik merupakan ancaman sekaligus tantangan bersama. Oleh karena itu harus disikapi dengan bijak sekaligus memperlakukannya dengan semangat nasionalisme. “Munculnya identitas etnik yang hidup melalui sistem demokrasi liberal harus disikapi sejak dini agar tidak menjadi ancaman bagi masa depan,” tutur penulis buku yang juga merupakan dosen Institut Pertanian Bogor ini.

Sementara itu, salah satu pembahas buku, Dr. Sony Keraf, beragumentasi sebaiknya seseorang tidak perlu mempermasalahkan perihal yang hanya akan menimbulkan ‘persinggungan.’ Menurutnya, setiap individu harusnya merasa nyaman dan menerima adanya perbedaaan. Jika tidak, perpecahanlah yang akan terwudu.

Selain Sony Keraf, acara yang berlangsung di Ruang Damandiri Universitas Trilogi juga mendaulat Dr. Radhar Panca Dahana dan Dr. Amirul Tamim sebagai pembicara yang membahas tema terkait politik etnik itu.

Universitas Trilogi yang merupakan kampus dengan Teknopreneur, Kolaborasi, dan Kemandirian sebagai pilarnya memang selalu ingin memberikan kontribusinya untuk mengatasi permasalahan bangsa. Melalui budaya bedah buku dan diskusi yang sering digiatkan di kampus, akan cepat menstimulasi tercipta budaya akademik. Karena sejatinya, kampus itu sendiri merupakan panggung kebebesan akademik. Dengannya kemudian, butir-butir pemikiran untuk menyelesaikan beragam persoalan bangsa akan tersampaikan. (*/rls)

Related posts