
Rencana besar lainnya yang disiapkan lembaga yang pernah dipimpin Presiden Republik Indonesia (RI) ke-3, BJ Habibie, ini yaitu menyiapkan produksi terkininya, N-219. “Ini adalah moda transportasi udara bermesin turboprop yang berkapasitas 19 penumpang dan sebagai karya anak bangsa,” tandas Direktur Teknologi dan Pengembangan PT DI Andi Alisyahbana, saat roll out N-219 di PT DI, belum lama ini.
Sebenarnya, ungkap Andi, prototipe pesawat yang pengembangannya mulai bergulir pada Maret 2007 ini, 90 persen tuntas. Akan tetapi, seru dia, dalam hal kelayakan terbang, prototype N-219 beru mencapai 30 persen. Pihaknya, jelas dia, mengembangkan ide dan desain pesawat tersebut bersama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Rencananya, ujar Andi, pihaknya melakukan uji coba terbang perdana N-219 pada tahun depan. “Targetnya, tahun berikutnya (2017), proses produksi bergulir,” kata dia.
Untuk tahap pertama produksi, tuturnya, pihaknya berkemampuan sebanyak 6 unit. Tahun berikutnya (2018), lanjut dia, pihaknya menambah produksi menjadi 10 unit. Kemudian, pada 2019, sambungnya, bertambah menjadi 18 unit. “Nah, pada 2020, kami memaksimalkannya menjadi 20 unit,” tukasnya.
Andi menuturkan, proses pembangunan N-219 memang membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sumber dananya, beber dia, adalah Penyertaan Modal Negara (PMN). Nilainya, imbuh Andi, mencapai Rp 63 miliar. Peruntukannya, terang dia, bagi pembiatan zig dan tool N-219.
Berdasarkan Letter of intents (LoI), ucapnya, pihaknya berhasil menggaet berbagai kalangan sebagai pangsa pasar N-219. Paling banyak maskapai penerbangan swasta. Kemudian, pemerintahan daerah, antara lain, Aceh, Kepulauan Riau, dan Papua. “Bahkan, ada beberapa perusahaan yang dalam tahap negosiasi pembayaran down payment sebagai tanda keseriusan dan ketertarikan mereka pada pesawat ini,” imbuh Andi.
Kepala Pusat Teknologi Penerbangan Lapan, Gunawan Setyo Prabowo, menambahkan, tentunya, sebelum roll out, bersama PT DI, pihaknya melakukan riset penerbangan, yang bertujuan untuk visi kemandirian bangsa. Alokasi dana riset mencapai Rp 450 miliar, yang merupakan sinergitas antara kementerian dan lembaga negara. Riset N-219, sahut Gunawan, merupakan satu di antara 7 program utama. “N-219 merupakan program ke-4,” singkatnya. (ADR)





