
Hal itu menyebabkan terjadinya perlambatan kinerja ekononi pada berbagai sektor. Perbankan menjadi satu di antaranya yang terkena imbas.
Namun, pada 2016, perkiraannya, ekonomi dunia mulai menggeliat. “Itu karena ekonomi AS dan India yang menguat dan prediksinya tumbuh 3 persen serta 7,5 persen. Ini menjadi hal positif bagi Indonesia, yang perkiraannya, lebih baik daripada 2015, dan tumbuh 5,2-5,6 persen,” tandas Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah Jabar-Banten Tbk alias bank bjb, Ahmad Irfan, pada Media Gathering dan Economic Outlook 2016 di Courtyard Hotel, Seminyak, Bali, Minggu (29/11) malam.
Melihat hal itu, Ahmad Irfan menegaskan, pihaknya memutuskan untuk tancap gas demi menjaga sekaligus mendongkrak kinerja bisnis pada 2016. Untuk itu, cetusnya, pihaknya mencanangkan sejumlah target pertumbuhan.
“Tahun depan, kami menargetkan beberapa pertumbuhan. Kredit, kami proyeksikan tumbuh 14 persen. Kemudian DPK (dana pihak ketiga) naik 13,5 persen,” paparnya.
Selain itu, tambahnya, pihaknya pun bertekad menekan Non-Performing Loans (NPL) menjadi 2,3 persen. Selanjutnya, imbuhnya, Loan Deposit Ratio (LDR) menjadi 92 persen dan Capital Adequated Ratio (CAR) sebesar 16,5 persen. (ADR)





