Literasi Keuangan Bagi Penyandang Disabilitas

ilustrasi/dunia-energi
ilustrasi/dunia-energi

JABARTODAY.COM-BANDUNG. Bandung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bekerjasama dengan Pusat Studi dan Layanan Disabilitas, Universitas Brawijaya Malang dan Bandung Independen Living Center (Billic) menyelenggarakan Pelatihan Literasi Keuangan bagi Penyandang Disabilitas di Bandung Raya.

Deputi Direktur Edukasi OJK, Jalius mengungkapkan, kegiatan ini dilaksanakan karena berdasar pada Penelitian Bank  Dunia pada tahun 2011 menunjukkan, bahwa sekitar 40 persen penduduk Indonesia tidak memiliki akses terhadap layanan perbankan. Hal ini membuktikan, akses layanan keuangan (financial inclusion) bagi seluruh lapisan masyarakat merupakan salah satu faktor yang penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan.

“Artinya, memerlukan adanya peningkatan akses dan layanan keuangan yang lebih luas bagi segala aktivitas masyarakat, seperti tabungan, pembayaran, kredit usaha, dana pensiun, asuransi kesehatan, asuransi pendidikan, dan lain sebagainya. Kondisi yang demikian ini selaras juga dengan keadaan ekonomi para penyandang disabilitas di Indonesia, khususnya di Bandung. Mereka hidup di tengah stereotype yang buruk, dalam artian dianggap tidak atau kurang produktif,” ujar Jalius.

Menurut Jalius, peranan pemerintah saat ini masih minim kendati di Bandung sendiri sedang banyak digagas program pemberdayaan bagi penyandang disabilitas. Di Bandung sendiri harus diakui masih kurang aksesibilitas fasilitas publik bagi penyandang disabilitas, baik dalam pendidikan, kesehatan, maupun perekonomian, terutama dalam layanan perbankan dan jasa keuangan. Padahal di Bandung saja jumlah penyandang disabilitas kurang lebih mencapai 10.200 orang. Terlebih lagi dalam beberapa bidang mereka tidak mendapatkan kesempatan yang luas, misalnya dalam aspek ketenagakerjaan dimana kesempatan kerja bagi mereka masih minim.

“Terlebih lagi penyandang disabilitas di Bandung masih banyak yang belum mendapatkan pekerjaan sehingga akan mengalami kesulitan dalam persoalan keuangan dan mereka akan sangat diuntungkan dengan adanya program financial literacy bagi penyandang disabilitas khususnya di Bandung ini. Kendala-kendala lainnya yang dialami penyandang disabilitas terutama di Bandung adalah kesulitan dalam aksesibilitasnya pada jasa keuangan,” tuturnya.

Perhatian OJK ini, jelas Jalius, kurang melek-nya mereka dalam dunia keuangan (financial illiterate), terlebih lagi karena tingkat pendidikan mereka yang masih rendah, sedangkan mereka harus mampu menghidupi keluarga. Secara sistem keuangan banyak difabel dianggap bukan bagian dari “bankable people”, karena mereka bagian dari kelompok pendapatan rendah. Selain itu banyak kasus terjadi yang menunjukkan bahwa mereka selama ini dianggap sebagai orang yang “tidak cakap hukum” sehingga banyak dari mereka yang tidak mampu dan tidak dapat mengakses jasa keuangan. (rus)

 

Related posts