Sulit Untuk Berantas Investasi Bodong

(erwin adriansyah)
(erwin adriansyah)

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Sejak beberapa tahun terakhir, banyak berdiri perusahaan investasi yang menawarkan keuntungan menggiurkan. Namun, sebaiknya, pubik harus berhati-hati jika mendapat atau menerima sebuah penawaran investasi yang menjanjikan keuntungan besar. Misalnya, setiap bulannya menerima keuntungan 20-30 persen.

Pasalnya, tidak tertutup kemungkinan, perusahaan investasi tersebut hanya ingin memanfaatkan kekurangpahaman masyarakat mengenai cara berinvestasi guna mengeruk keuntungan. Selain itu, ternyata, tidak sedikit perusahaan investasi seperti itu yang tidak memiliki izin lembaga pengawas jasa keuangan, yang dalam hal ini, menjadi kewenangan dan tugas Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Kami punya tugas mengawasi berbagai aktivitas lembaga-lembaga jasa keuangan, tidak hanya perbankan, tetapi juga asuransi, pasar modal, dan lainnya. Selain itu, kami pun memberi perlindungan kepada konsumen,” tandas Riza Aulia Ibrahim, Direktur Pengawasan Bank Kantor Regional II Jabar Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada sela-sela Pertemuan Tahunan Pelaku Jasa Keuangan 2015 di Bale Pasundan Gedung Bank Indonesia Kantor Wilayah Jabar, Jalan Braga Bandung, Selasa (17/2).

Riza melanjutkan, salah satu upaya perlindungan konsumen yaitu meminimalisir praktik investasi bodong. Pria berkaca mata ini mengakui bahwa tidak mudah untuk memberantas investasi bodong. Karenanya, jelas dia, untuk meminimalisir korban investasi bodong, pihaknya fokus melakukan edukasi. “Kami terus mengedukasi masyarakat. Itu karena masyarakat harus dapat memilih saat memutuskan berinvestasi,” kata Riza.

Selain mengedukasi masyarakat yang ingin berinvestasi, lanjutnya, jajarannya pun melakukan hal yang sama kepada perusahaan investasi. Tujuannya, terang Riza, supaya perusahaan-perusahaan pasar modal dapat beroperasi secara baik dan taat aturan sehingga tidak merugikan masyarakat. Upaya lain meminimalisir praktik investasi bodong, sambungnya, pihaknya berkoordinasi dengan aparat keamanan dan penegak hukum.

Memang, kata Riza, secara kasat mata, tidak mudah menentukan bodong tidaknya sebuah perusahaan yang menawarkan produk investasi. Akan tetapi, salah satu langkahs sederhana untuk mengetahuinya adalah pada imbal hasil atau keuntungan yang mereka tawarkan.

“Acuannya sederhana, yaitu Suku Bunga Bank Indonesia (SBI). Jika acuannya SBI, idealnya, return yang ditawarkan perusahaan investasi tidak besar. Apabila menawarkan return yang besar dan menggiurkan, misalnya, mencapai 20-30 persen, masyarakat patut mewaspadainya. Logikanya, perusahaan itu harus punya core business jelas dan sangat menguntungkan agar mereka dapat memberi imbal hasil kepada para investornya,” tutup Riza. (ADR)

 

Related posts