Singapura Siap Gandeng 4 Rumah Sakit di Bandung

jabartoday.com/net
jabartoday.com/net

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Melakukan kerjasama menjadi salah satu opsi untuk mendukung kinerja berbagai sektor, termasuk kesehatan. Kabarnya, Singapura berencana untuk menggandeng beberapa rumah sakit ternama di Jabar, khususnya, Kota Bandung. “Bentuk kerjasamanya yaitu penanganan penyakit tulang,” tandas Ketua Pehimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Jabar, Dedy Widjaja, pada sela-sela Specialized Injection Arean Effective Non-Sargical Treatment Alternative di Rumah Makan Phenix, Jalan Jenderal Sudirman Bandung, baru-baru ini.

Dedy mengatakan, sejauh ini, para penderita penyakit tulang menjalani perawatan dan pengobatan di Singapura. Tentunya, kata dia, hal itu memerlukan biaya tinggi. Namun, para ahli Singapura berhasil menemukan satu metode penanganan penyakit tersebut tanpa operasi. “Yaitu menggunakan laser. Teknisnya, menyuntikkan jarum untuk kemudian menyinari sumber sakitnya menggunakan laser. Itu tanpa operasi. Biayanya pun lebih efisien 50 persen,” kata Dedy.

Untuk membantu para penderita, lanjutnya, Singapura berencana untuk menggandeng beberapa rumah sakit. Di Kota Bandung, ada 4 rumah sakit yang tergolong siap. Yaitu, sebutnya, Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Hasan Sadikin, RS Borromeous, RS Santosa, dan RS Immanuel.

Menurutnya, kesiapan itu tidak hanya dalam hal para tenaga medis, seperti dokter, tetapi juga peralatannya. Rencananya, pada 2016, penanganan penyakit tulang dapat berlangsung di Bandung. “Namun, baru dalam hal pemeriksaan awal. Sedangkan penanganan lanjutannya, belum karena tidak mudah untuk melakukan alih teknologi. Tapi, setidaknya, sistem penanganan ini lebih menghemat biaya para penderita,” sahut Dedy.

Dikatakan, saat ini, cukup banyak warga negara Indonesia (WNI) yang mengidap penyakit tulang, semisal osteoporosis atau pengeroposan tulang. Menurutnya, sekitar 50 persen di antara penduduk mengalami penyakit tersebut. Memang, ujar Dedy, penyakit tulang belum termasuk penyakit yang dapat menimbulkan kematian. Akan tetapi, penyakit tersebut tetap menimbulkan rasa sakit dan cukup membuat penderitanya menderita. (ADR)

 

Related posts