IHSG dan Rupiah Drop, Industri pun Terhambat

jabartoday.com/net
jabartoday.com/net

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Kondisi kontradiktif terjadi pasca Presiden Republik Indonesia (RI) ke-7, Joko Widodo, melakukan reshuffle sejumlah menterinya. Setelah reshuflle, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru sempat mengalami drop. Kendati begitu, pada penutupan Jumat (14/8), Indeks naik sebesar 1 poin atau 0,02 persen pada level 4.585. Sebelumnya, Indesk bergerak sekitar 4.559-4.594.

Dalam hal pasar valuta asing, nilai tukar rupiah terkoreksi sebesar 19 poin atau 0,14 persen menjadi Rp 13.787 per dolar AS. Sebelumnya, mata uang bumi Khatulistiwa itu bergerak pada Rp 13.740-Rp 13.829 per dolar AS.

Menanggapi kondisi tersebut, Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Jabar, Dedy Widjaja, mengatakan, untuk menyikapi kondisi tersebut, pemerintah harus melakukan berbagai langkah dan kebijakan strategis. Dedy mengakui, saat ini, industri nasional, khususnya, Jabar, dalam kondisi berat.

Terlebih, ujarnya, Cina melakukan deflasi mata uangnya, Yuan. Situasi tersebut, kata Dedy menyebabkan beban industri makin berat. Bagi Cina, lanjut dia, itu merupakan langkah tepat. Pasalnya, ekspor mereka lebih besar daripada impor. Sebaliknya, tutur Dedy, apa yang dilakukan Cina tersebut (deflasi), kurang tepat jika berlangsung di Indonesia. “Penyebabnya, sejauh ini, impor Indonesia lebih besar daripada ekspor. Terlebih, mata uang rupiah dalam kondisi lemah,” tandas Dedy pada sela-sela Specialized Injection Arean Effective Non-Sargical Treatment Alternative di Rumah Makan Phenix, Jalan Jenderal Sudirman Bandung, baru-baru ini.

Dedy mengatakan, sebaiknya, pemerintah segera menurunkan suku bunga kredit perbankan. Ini, lanjutnya, agar sektor-sektor ekonomi dapat lebih bergerak. Pemerintah, melalui Kementerian Perindustrian, berencana untuk memberi subsidi suku bunga kredit sekitar 4 persen bagi industri strategis dan menyerap tenaga kerja banyak.

Soal melemahnya IHSG, meski akhirnya menguat 1 poin, Dedy mengatakan, itu merupakan kondisi yang dapat berdampak negatif. Pasalnya, situasi tersebut dapat membuat penghimpunan dana menjadi lebih sulit terserap. “Apabila sulit terserap, tentunya, penyaluran kredit pun terganggu. Dampaknya, kredit tidak tersalurkan sehingga sektor industri pun tidak bergerak. Intinya, kami berharap pemerintah, apalagi hadirnya beberapa menteri baru, melakukan kebijakan dan langkah strategis untuk menyikapi kondisi ekonomi saat ini,” tutup Dedy. (ADR)

Related posts