Sesalkan Masih Adanya Intoleransi Beragama

Aksi teatrikal memeringati Hari HAM Internasional, di Jalan Asia Afrika, Sabtu (10/12). (jabartoday/eddy koesman)
Aksi teatrikal memeringati Hari HAM Internasional, di Jalan Asia Afrika, Sabtu (10/12). (jabartoday/eddy koesman)

JABARTODAY.COM – BANDUNG Peringatan Hari Hak Asasi Manusia, Sabtu (10/12), mendapat perhatian masyarakat. Pasalnya, selain menyampaikan tuntutan dalam jargon-jargon yang dituliskan pengunjuk rasa seperti ’HAM Berkalung Senapan’, ’Bubarkan Ormas Intoleran’, ’Tak Ada HAM di West Papua’, ’Tangkap dan Adili Jenderal Pelanggar HAM’, digelar pula aksi teatrikal yang mewakili persoalan HAM saat ini.

’’Aksi teatrikal ini kami lakukan dalam memeringati Hari HAM Internasional. Di Indonesia, persoalan HAM masih harus jadi perhatian, tak hanya di bumi Papua, ada aksi inteloransi beragama di Kota Bandung,” tutur juru bicara Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi (Sorak) Bara Malik, di sela aksi peringatan Hari HAM Internasional, di Jalan Asia Afrika.

Dijelaskan Bara, para pengunjuk rasa sengaja melakukan aksi di Jalan Asia Afrika, karena sasaran utama mereka adalah masyarakat. Sehingga, seruan mereka tersebut bisa didukung oleh masyarakat.

Dari referensi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) pada 2015, di Jakarta telah terjadi 113 kasus penggusuran, 85 persen dilakukan tanpa musyawarah. Bahkan, dilakukan dengan tindakan kekerasan yang melibatkan tentara dan polisi. Begitu juga di Jawa Barat, menurut Bara, perampasan serupa juga terjadi di Kebon Jeruk, Kebon Waru, dan perampasan lahan yang terjadi di Sukamulya.

Sebagai kritik terhadap pemerintah, massa yang berunjuk rasa turut menggunakan rompi berbahan kresek berwarna hitam. Dimana kresek itu disimbolkan sebagai tempat untuk menampung janji-janji palsu pemerintah. ’’Omongan penguasa sulit dipegang, maka, kantong kresek yang kami gunakan ini merupakan wadah untuk menampungnya,” tandas Bara. (koe)

Related posts