Thursday , 21 November 2019
Home » Ekonomi » September, Inflasi dan Deflasi Terjadi di Jabar

September, Inflasi dan Deflasi Terjadi di Jabar

BPSJABARTODAY.COM – BANDUNG — Perkembangan ekonomi dalam beberapa waktu terakhir memang kurang positif. Di Jabar, periode September tahun ini, tatar Pasundan mengalami inflasi dan deflasi.

“Pantauan harga sejumlah komoditias dan jasa periode bulan lalu menunjukkan, adanya inflasi dan deflasi. Beberapa komoditi berandil dalam terjadinya inflasi dan deflasi di Jabar,” tandas Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar, Dody Gunawan Yusuf, di BPS Jabar, Jalan PHH Mustofa, belum lama ini.

Diutarakan, periode September 2015, hasil pemantauan menunjukkan, Indeks Harga Konsumen Gabungan (IHKG) di Jabar menunjukkan, deflasi di tatar Parahyangan sebesar 0,18 persen. Berdasarkan hasil pemantauan di 7 kota, yaitu Kota Bogor, Kota Sukabumi, Kota Bandung, Kota Cirebon, Kota Bekasi, Kota Depok, dan Kota Tasikmalaya, rata-rata IHK turun. Pada Agustus 2015, IHK di 7 kota itu sebesar 120,30. Sedangkan pada September 2015, sejumlah 120,08.

Dijelaskan, hasil pemantauan tersebut menunjukkan, 6 di antara 7 kota tersebut, mengalami deflasi. Kota-kota yang mengalami deflasi, sebutnya, yaiut Sukabumi 0,21 persen, Bandung sebesar 0,01 persen, Cirebon sejumlah 0,27 persem, Bekasi sebanyak 0,38, Depok sebesar 0,27 persen, dan Tasikmalaya 0,08 persen. Sementara satu kota lain, Bogor, tambahnya, terjadi inflasi sebesar 0,04 persen.

Soal komoditi yang harga jualnya turun dan berandil deflasi di Jabar, yaitu daging ayam ras sebesar 0,24 persen, bawang merah 0,06 persen, cabe rawit 0,04 persen, cabe merah, bahan bakar minyak (BBM), dan telur ayam ras masing-masing 0,03 persen. Lalu, imbuh dia, minyak goreng dan jengkol masing-masing sebesar 0,02 persen. Sedangkan komoditas harga jualnya naik antara lain beras 0,06 persen, tarif perguruan tinggi, emas perhiasan, dan rokok kretek filter masing-masing 0,03 persen. “Selanjutnya, wortel, tukang non-mandor, dan bawang putih masing-masing sebesar 0,02 persen. Berdasarkan kelompok, adalah bahan makanan yang berkontribusi deflasi tertinggi, yaitu 1,74 persen,” papar Dody. (ADR)