Rupiah Terjun Bebas, Valas Was Was

jabartoday.com/net
jabartoday.com/net

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Sejak beberapa pekan terakhir, ekonomi Indonesia berada dalam situasi yang cukup kelam. Pasalnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan pelemahan. Beberapa hari lalu, rupiah berada pada level yang sudah melewati Rp 14 ribu oer dolar AS. Tentunya, bagi para pelaku bisnis, hal ini berdampak cukup signifikan  Adalah pasar valuta asing, yang menjadi salah satu sektor, yang terimbas pelemahan anjloknya rupiah

Para pelqku pasar valas pun was was. “Benar.sotuasi dan kondisi saat ini mencemaskan,” tandas Assistant Vice President Valbury Asia Futures, Ervan Permadi, di tempat kerjanya, Jalan Dipenogoro Bandung, Kamis (27/8).

Menurutnya, kecemasan pasar valas terlihat pada terjadinya panic buying publik yang punya kebergantungan pada dolar AS. Dikatakan, buying panic terjadi akibat adanya kekhawatiran masyarakat ubtuk memperoleh nilai tukar negeri adi daya itu.

Efeknya, sambung Ervan, dolar AS mengalami permintaan yang naik. Saat ini,pembelian solar AS terus naik dan lebih tinggi daripada kondisi sebelumnya. Ini,  sambungnya, menyebabkan nilai tukar rupiah terjerembab.

Meningginya permintaan dooar AS bukan tanpa sebab. Dia mengemukakan, salah satu faktornya, tidak sedikit pelaku usaha yang menggunakan dolar AS sebagai alat pembayaran. Selain itu,  tambah dia, tidak sedikit pula pihak swasta yang harus melunasi cicilannya menggunakan dolar AS yang acuan suku bunganya adalah suku bunga luar negeri.

“Logikanya, ketika permintaan meninggi,  ketersediaan barang pun menipis. Ini yang terjadi pada dolar AS. Akibatnya, dolar AS menguat. Sebaliknya, hal itu melemahkan nata uang lain, seperti Yuan (Cina), Yen (Jepang),  Ringgit (Malaysia), termasuk Rupiah,” paoar Ervan.

Ervan melanjutkan, penurunan penguatan dolar AS pun karena adanya kebijakan The Fed. Bank Sentral AS itu melakukan Quantitative Easing (QE). Caranya, mencetak dolar lebih banyak. Lalu, The Fed membeli kembali obligasi. Itu, terangnya,  yang juga membuat aliran dolar AS aulit terbendung.

Tidak itu saja,  secara serentak, tahilun ini, The Fed menghentikan Quantitative Easing. Bahkan, rencananya,  The Fed menaikkan auku bunganya. “Itu AS lakukan karena ekonominya membaik. Hasilnya, dolar AS kian perkasa.

Meski demikian,  Ervan berpandangan, ekonomi Indonesia, yang secara fundamental jauh dari ideal, masih lebih baik daripada tahun sebelumnya. Pasalnya, jelas Ervan, saat ini, Indonesia punya cadangan devisa sebesar 107,6 milar solar AS. Angka itu, tukasnya, jauh lebih baik daripada 1998,  yang saat itu,  cadangan devisanya 30 miliar dolar AS.  (ADR)

Related posts