Rupiah Melemah, PHK Massal Ancam Industri Jabar

Ketua Kamar Dagang dan Industri Jabar 2013-2018, Agung Suryamal Soetisno.
Agung Suryamal Soetisno.

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Dalam beberapa bulan terakhir, kondisi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah. Posisi terakhir, rupiah berada pada level Rp 13.350 per dolar AS. Bagi dunia usaha, tentunya, hal itu merupakan sebuah situasi yang kurang menguntungkan, bahkan ancaman. Salah satu ancamannya adalah terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Ancaman PHK besar-besaran itu pun membayangi industri-industri Jabar.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jabar, Agung Suryamal Soetisno, mengemukakan, bahwa kondisi industri di Jabar berada pada level lampu kuning. Itu, katanya, sebagai efek perkembangan ekonomi global, satu di antaranya, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. “Sejak awal 2015, sekitar 6.300 karyawan industri tekstil dirumahkan. Penyebabnya, jelas dia, biaya produksi yang tinggi tanpa diimbangi kineja penjualan yang positif. Bahkan, momen Ramadan dan Idul Fitri pun pun tidak lagi menjadi trigger penjualan bagi industri tekstil,” tandas Agung dalam seminar “Menyikapi Penguatan Dollar AS terhadap Dunia Usaha di Indonesia.” di Hotel Golden Flower Jalan Asia Afrika, Bandung, belum lama ini.

Menurutnya, saat ini, terjadi penumpukan stok produk pada gudang-gudang. Sarung menjadi salah satu contohnya. Perkiraannya, sebut Agung, volumenya mencapai 2 juta kodi sarung yang menumpuk. Biasanya, kata Agung, dua bulan pra-Idul Fitri, sarung-sarung habis terjual. Namun, imbuh dia, saat ini, kondisinya tidak laku. Efeknya, industri stop produksi. “Karyawan pun diliburkan,” tutur dia.

Agung berpendapat, situasi ini akibat daya beli masyarakat yang terus melemah. Selain itu, ujar dia, nilai tukar rupiah yang terus anjlok pun berkontribusi pada perkembangan ekonomi nasional saat ini. Padahal, ujar Agung, keberlangsungan dunia usaha nasional sangat bergantung pada stabilitas rupiah.

Efek anjloknya rupiah bagi industri karena biaya produksi meninggi. Penyebabnya, jelas dia, 99 persen bahan baku industri di Jabar merupakan impor. Kemudian, lanjutnya, dolar AS pun menjadi acuan skema pembayaran bunga bank. Itu karena, jelasnya, banyak pinjaman menggunakan dollar. “Sekitar 52 persen transaksi menggunakan dolar AS. Otomatis, pelemahan rupiah berpengaruh. Rumitnya, ekspor pun turut melambat, khususnya, batu bara,” kata Agung.

Untuk itu, Agung meminta pemerintah menerbitkan kebijakan yang dapat menggairahkan kembali industri nasional. Salah satunya mengganti tim ekonomi kabinet Jokowi-JK. “Kebijakan harus tepat, jangan terlihat grogi begini. Jangan sampai kita alami krisis ekonomi ke tiga,” tutup Agung. (ADR)

Related posts