Home » Opini » Rumahku, Sekolahku

Rumahku, Sekolahku

Komaruddin Hidayat
Cendekiawan Muslim

Epidemi virus corona memaksa banyak sekolah meliburkan para siswanya, mereka dianjurkan belajar di bawah pengawasan orangtua di rumah masing-masing. Sebagian proses pembelajaran diganti lewat e-learning, belajar jarak jauh. Ini sebuah pengalaman baru yang memerlukan adaptasi bagi semua pihak.

Orangtua senang bisa berkumpul bersama anak-anak, menemani mereka belajar. Tetapi tidak sedikit yang mengeluh dan menyadari betapa tidak mudahnya menjadi seorang guru bagi anak-anaknya. Kita memang wajib berterima kasih pada guru dan sekolah. Tanpa mereka, hampir mayoritas orangtua tidak mampu melakukan home schooling di bawah asuhan mereka. Tidak mudah memindahkan suasana belajar sekolah ke rumah.

Hari-hari ini suasana keintiman dan kehangatan keluarga langsung terasa. Semua orang menahan diri tidak keluar rumah. Semuanya saling peduli terhadap yang lain. Semuanya menjaga kebersihan diri dan lingkungan dengan penuh disiplin, tanpa ada paksaan. Namun kita juga mesti menyadari, betapa banyak keluarga yang tiba-tiba dibuat repot dan menderita secara ekonomi. Banyak bisnis perhotelan, restauran, agen perjalanan, dan pekerjaan lain yang merumahkan buruh dan pegawainya. Mereka yang bekerja pada jasa angkutan seperti gojek, taksi, grab dan semacamnya sepi penumpang. Alias tak ada pemasukan uang.

Situasi ini memerlukan perhatian dan bantuan dari pemerintah dan mereka yang berpunya. Saatnya para politisi menaruh peduli dan mencari solusi bagi mereka, jangan hanya datang super ramah sewaktu menjelang pilkada atau pemilu.

Bahkan masjid haram di Makkah pun yang biasanya selalu penuh oleh jamaah, sekarang sepi. Mereka yang mukim di Makkah bisa sepuasnya berthawaf dan mencium hajar aswad. Sementara itu, negara-negara yang selama ini merasa hebat dan kuat juga dibuat bingung dan mengakui kerapuhannya menghadapi serangan virus corona. Senjata-senjata nuklir yang jadi andalan jika PD-3 meletus tak mampu mengalahkan virus yang bekerja dengan senyap.

Pesta hura-hura dan glamour yang semula magnetik sekarang justeru dihindari. Orang memilih menyendiri, setidaknya mengambil jarak dari yang lain. Dalam sunyi sendiri, ada yang menemukan agenda baru melakukan inner journey, merenungkan makna dan tujuan hidup. Mempertanyakan gemerlap duniawi yang tiba-tiba redup oleh interupsi corona. Orang melakukan instropeksi, rupanya manusia telah berbuat amat rakus sehingga merusak keseimbangan dan keadilan alam.

Semua penghuni bumi ini masing-masing punya hak hidup dan tempat tinggal, jangan sampai saling mengganggu dan merusak keseimbangan ini. Tetapi manusia telah berbuat zalim yang pada urutannya bumi sang ibu pertiwi marah memberikan peringatan pada manusia, makhluk yang merasa paling pintar namun sekaligus juga lemah dan bodoh.

Ada juga yang semakin merasa dekat dengan Tuhannya. Tuhan tidak mesti dijumpai di dalam keramaian jamaah di gereja, kuil, masjid, atau vihara, dengan khutbah berbuih-buih namun dijumpai dalam kesunyian. Dalam hati orang yang beriman. Tuhan diseru dengan bahasa hati, bukan bibir. Dengan doa, cinta dan kepasrahan, bukan teriakan takbir yang disertai hujatan dan kebencian. Rupanya tidak hanya rumahku sekolahku, tetapi alam semesta dan kehidupan ini adalah tempat kita belajar agar tumbuh lebih bijak memandang dan menjalani hidup. Hidup saling menolong, bukan memusuhi. ***