
JABARTODAY.COM – BANDUNG — Sejak beberapa bulan terakhir, kondisi ekonomi Indonesia kurang positif. Satu di antaranya, ditandai oleh terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dodi Arifianto, Direktur Resiko Perekonomian dan Sistem Keuangan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), menilai bahwa adalah sebuah anggapan yang kurang benar jika membandigkan pelemahan rupiah dengan negara lain merupakan sebuah hal yang tidak begitu bermasalah.
“Jika rupiah dan mata uang lain melemah terhadap dolar AS, itu bukan berarti tidak terjadi apa-apa. Transaksi menggunakan dolar. Untuk memperkuat rupiah, upayanya tidak cukup kampanye gerakan cinta rupiah,” tandas Dodi pada sela-sela Seminar interaktif bertema “Menyikapi Penguatan Dollar AS terhadap Dunia Usaha di Indonesia.” di Hotel Golden Flower Jalan Asia Afrika, Bandung , belum lama ini.
Dodi berpendapat, ada hal yang unik berkenaan dengan kondisi rupiah. Menurutnya, jika perbandingannya dengan perputaran dolar di Indonesia, nilai dolar memang masih lebih sedikit darupada negara tetangga. Cash flow dolar di Indonesia sekitar 5,8 miliar dolar AS per hari. Sedangkan Malaysia, jauh lebih besar, yaitu 12,8 miliar dolar AS per hari. “Itu menunjukkan, kebergantungan Indonesia pada dolar AS masih lebih kecil daripada Malaysia. Tapi, saya kira ada yang miss karena rupiah terus drop,” kata Dodi.
Lalu, bagaimana dengan efek eksternal, seperti kondisi Yunani yang kini resmi menyandang status negara bangkrut? Dodi berpendapat, situasi di Yunani tidak terlalu berpengaruh. Akan tetapi, lanjut dia, kalangan investor menunggu kepastian batas akhir pembayaran utang Yunani dan The Fed. Artinya, terang dia, saat ini, masih terjadi ketidakpastian. Situasi itulah yang membuat dolar AS fluktuatif.
Melihat perkembangan tersebut, Dodi memprediksikan, nilai tukar rupiah sulit untuk menembus angka Rp 12.000 per dolar AS. Prediksinya, ucap dia, rupiah berada pada level Rp 13.400-13.500 per dollar AS hingga akhir tahun. (ADR)





