Perlancar Selatan, Jabar Butuh Tol Cileunyi-Tasikmalaya

jabartoday.com/net
jabartoday.com/net

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan kendaraan di Indonesia, khususnya, Jabar, begitu pesat. Kondisi ini tidak sebanding dengan ketersediaan sarana infrastruktur. Salah satu indikatornya, setiap momen-momen tertentu, semisal Idul Fitri, ruas-ruas jalan di Jabar kerap dilanda kemacetan parah. Adalah jalur selatan salah satu contohnya.
Melihat kondisi itu, perlu adanya ruas jalan yang dapat memecah sekaligus mengantisipasi kemacetan. “Tol Cileunyi-Tasikmalaya sangat dibutuhkan. Kebutuhannya mendesak. Ini untuk memperlancar jalur selatan. Kemacetan di jalur itu (selatan) kerap mengganggu aktivitas, baik pergerakan manusia maupun barang sehingga dapat berimbas pada beragam sektor, termasuk ekonomi,” tandas Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jabar, Dedi Taufik, Rabu (22/7).

Dedi mengemukakan, hingga saat ini, pertumbuhan kendaraan di Jabar sebesar 12 persen per tahun. Sedangkan perkembangan infrastruktur, khususnya, jalan, sambung Dedi, sangat kecil. Persentase pertumbuhannya, lanjut Dedi, hanya sekitar 1,2 persen.

Memang, ujar dia, sejauh ini, bersama jajaran kepolisian, pihaknya melakukan berbagai upaya antisipasi kemacetan, terutama, saat momen arus mudik dan balik Idul Fitri. Misalnya, kata dia, melaukan rekayasa jalan. Kemudian, ujarnya, menambah rambu-rambu. Termasuk, sahut dia, mengatur pergerakan arus kendaraan dan sebagainya. Akan tetapi, seru dia, sejauh ini, upaya-upaya tersebut belum optimal untuk mengantisipasi kemacetan, utamanya, jalur selatan..

Dedi mengatakan, kehadiran tol sebagai sebuah strategi mengurai kemacetan memang tergolong efektif. Buktinya, jelas dia, pengoperasianal ruas Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) dapat mengatasi kemacetan pada jalur Pantai Utara (Pantura) Jabar. “Jadi, kehadrian ruas Tol Cilenyi-Tasikmalaya merupakan hal mendesak. Ini untuk mengurai kemacetan sekaligus memperlancar arus lalu lintas jalur selatan,” terangnya.

Menurutnya, memang, beberapa waktu lalu, Jabar memiliki ruas Lingkar Nagreg yang panjangnya 3,7 kilometer dan Lingkar Gentong sepanjang 1,7 kilometer. Akan tetapi, tambah dia, jalur itu belum dapat menjadi andalan karena pertumbuhan kendaraan yang tinggi dan tidak sebanding dengan ketersediaan sarana infrastruktur jalan.

Dedi menunjukkan, bahwa saat arus mudik Iduk Fitri 2015, kemacetan jalur selatan mulai terjadi di Cileunyi, berlanjut ke Nagreg, Garut, dan Tasikmalaya. Di kawasan Gentong, kata Dedi, saat arus mudik 2015, pun terjadi kemacetan panjang. Sebagai contoh, waktu tempuh antara Limbangan, Kabupaten Garut dan Tasikmalaya selama 2 jam. Padahal, kata dia, normalnya, maksimal 1 jam. Paling cepat, 30 menit.

Dedi berpendapat, keberadaan Tol Cileunyi-Tasikmalaya tidak hanya untuk mengurai kemacetan saat arus mudik dan balik Idul Fitri. Namun, imbuh dia, juga sebagai sarana untuk menopang dan menunjang beragam aktivitas Jabar Timur, khususnya, di wilayah selatan. “Secara ekonomi, Jabar Selatan punya potensi besar. Jadi, tol Cileunyi-Tasikmalaya memasng sudah menjadi kebutuhan,” tutup Dedi.  (ADR)

Related posts