Penjual Celana Edarkan Pil Dextro

Kasatreskoba Polres Bandung AKP Agus Susanto dan Wakapolres Bandung Kompol Edwin Affandi mengekspose peredaran pil dextro, di Mapolres Bandung, Kamis (22/12). (jabartoday/avila dwiputra)

JABARTODAY.COM – BANDUNG Penyelewengan obat-obatan berbahaya masih marak terjadi, terbukti dengan diringkusnya dua orang pengedar pil dextro, yakni Ujang dan Jejen, oleh Satuan Reserse Narkoba Polres Bandung, di Kampung Sayang, Desa Ciluluk, Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung, Selasa (20/12).

Dari penangkapan ini, petugas menyita 41 ribu butir obat yang tidak miliki izin edar, 38 ribu diantaranya jenis dextro. Sementara, sisanya adalah obat jenis hexymer dan tramadol. “Obat-obatan ini sebenarnya tidak terlarang, hanya yang bersangkutan menyelewengkan saja,” ujar Wakil Kepala Polres Bandung Komisaris Edwin Affandi yang didampingi Kepala Satreskoba Ajun Komisaris Agus Susanto, di Mapolres Bandung, Kamis (22/12).

Pengungkapan berawal dari ditangkapnya Ujang oleh petugas Satreskoba Polres Bandung yang menjual pil dextro. Saat dilakukan pengembangan, Ujang mengaku, mendapatkan barang tersebut dari Jejen. Jejen sendiri tidak menepis telah menjual pil dextro kepada Ujang. “Jadi, seharusnya obat ini disuplai ke apotek. Tapi, oleh tersangka hal itu tidak dilakukan,” tukas Edwin.

Obat-obatan itu diedarkan oleh para tersangka di wilayah Kabupaten Bandung. Setelah obat yang dijual habis, Ujang menyerahkan uang kepada Jejen. Setelah diperiksa, Jejen mengaku, mendapat barang tersebut dari DD, yang saat ini masih buron atau masuk daftar pencarian orang (DPO), dengan harga Rp 125 ribu/bungkus.

Saat ditanya, Jejen mengatakan, menjual pil dextro itu dengan harga Rp 200 ribu/bungkus. Dirinya baru satu bulan melakukan penjualan obat-obatan tanpa izin tersebut. “Baru satu bulan ini. Biasanya saya jualan celana,” aku Jejen.

Atas aksinya tersebut, para tersangka dijerat Pasal 196 jo. Pasal 197 UU No 36/2009 tentang Kesehatan, yang ancaman hukumannya hingga sepuluh tahun penjara. (vil)

Related posts