Pendidikan, Kearifan Lokal dan Generasi Unggul

ruz1Fahrus Zaman Fadhly

Jurnalis Jabartoday.com

 

Kita patut bersyukur, bumi nusantara ini mewarisi kearifan lokal (local wisdom) yang tak tertandingi oleh bangsa-bangsa di dunia. Kearifan lokal berbagai suku bangsa di bumi nusantara ini menyebar dan mengakar (rooted in culture) dalam pandangan hidup atau filosofi mereka dalam menjalani kehidupan baik hubungannya dengan sesama, alam maupun Tuhannya. Kearifan lokal ini mengejawantah dalam banyak hal seperti norma sosial, pendidikan, ekonomi, kesusasteraan, politik, lingkungan, kesehatan, perdagangan, kuliner, arsitektur dan pertahanan.

Selain menjadi identitas nasional, kearifan lokal ini bisa menjadi modal sosial dan kultural bangsa ini sehingga dalam dekade ke depan mampu melampaui kejayaaan negara-bangsa (nation-state) yang pernah memimpin emperium dunia. Segala program pembangunan dan laku pemimpin baik di level nasional maupun lokal harus didorong agar berorientasi pada pemeliharaan dan revitalisasi nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom-based), demikian pula dalam bidang pendidikan. Terlebih pendidikan adalah deoxyribonucleic acid (DNA) kebudayaan. Merancang pendidikan berarti merancang masa depan sebuah generasi. Merancang sebuah generasi berarti merancang suatu kebudayaan dan peradaban masa depan suatu bangsa.     

Karena itu, bangsa ini harus memiliki roadmap (peta jalan) yang jelas dalam membangun generasi unggul dalam berbagai bidang kehidupan. Tanpa roadmap yang jelas, masa depan bangsa ini bergerak tanpa arah yang jelas pula. Ironi bila, a nation zonder grand design, suatu bangsa yang besar tanpa sebuah desain strategi yang besar pula. Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki keyakinan dan perhatian pada nilai-nilai kearifan lokal sebagai bahan baku (raw material) bangunan sebuah peradaban bangsanya.

Pendidikan dan Kearifan Lokal

Pendidikan sejatinya merupakan ikhtiar merancang dan mendesain masa depan (future engineering). Transformasi sosial dan berbagai aspek kehidupan manusia lainnya akan terjadi hanya melalui pendidikan. Pendidikan yang baik dipastikan akan menghasilkan kualitas sumber daya insani (human resources) yang baik pula. Demikian pula sebaliknya, pendidikan yang tidak dirancang secara baik, maka akan menghasilkan manusia-manusia setengah jadi, bahkan seperempat jadi. Bukan manusia paripurna, tetapi manusia yang cenderung merusak dan mudah menebar moral hazzard di muka bumi.

Sebagai pewaris nilai-nilai kearifan lokal, kita memiliki tanggung jawab untuk memilihara dan merevitalisasinya sehingga menjadi bagian integral dari jatidiri dan kepribadian bangsa ini. Pendidikan menjadi sektor penting dalam rangka ikhtiar memelihara dan merevitalisasi nilai-nilai kearifan lokal. Kita berkeyakinan terdapat hubungan organik antara pendidikan dan lahirnya generasi unggul di masa depan. Sejarah bangsa-bangsa lain telah menunjukkan hal demikian. Prestasi-prestasi di bidang filsafat, sains, tehnologi, seni dan humaniora yang diraih bangsa-bangsa maju semuanya berporos dan bermuara pada pendidikan.

Mengadopsi kearifan lokal bangsa yang diiringi oleh sikap adaptif, selektif dan responsif terhadap dinamika global adalah satu ciri manusia Indonesia masa depan yang berkebudayaan tinggi. Capaian-capaian di bidang filsafat, sains, tehnologi, seni dan humaniora di tingkat global juga mesti pendapat perhatian agar terjadi proses kesinambungan. Karena itu perlu dilakukan semacam sintesa kebudayaan yang di satu sisi dilakukan revitalisasi dan di sisi lain perlu dilakukan adaptasi kultural (cultural adjustment) dengan dinamika global yang tidak terelakkan.

Karena sejatinya, sebagai suatu komunitas dunia, dialektika kebudayaan itu suatu kemestian sejarah yang tidak bisa dihindari (inevitable thing). Yang terpenting kita mampu melakukan sintesa, yang pada akhirnya bisa melahirkan tesa kebudayaan yang sama sekali baru: manusia Indonesia baru, manusia Purwakarta baru. Suatu entitas generasi unggul dengan kualitas (super) tinggi baik secara tehnikal, fisikal, manajerial, emosional, intelektual maupun spiritual.

Dalam rangka melahirkan generasi unggul tersebut kita perlu melakukan berbagai ikhtiar, di antaranya mengidentifikasi dan menjajaki peluang potensi kearifan lokal bangsa ini sehingga menjadi bagian utama dan terpenting dalam menyusun strategi kebudayaan nasional. Penggalian nilai-nilai lama yang memiliki tingkat kearifan tinggi perlu dilakukan. Segudang potensi sumber daya alam dan insani bangsa harus dioptimalkan sebagai aset socio-kultural bangsa yang tidak ternilai harganya. Nilai-nilai kearifan lokal seperti gotong royong, toleransi, filosofi, etos kerja, petitah-petitih, puisi, tenggang rasa, tepa selira, andhap ashor, legowo, keikhlasan, ketulusan, sikap hidup terhadap alam dan lingkungan, serta nilai-nilai kebaikan dan kearifan yang telat berurat akar (rooted in culture) dalam kebudayaan bangsa harus terus digali, direvitalisasi dan dipertahankan.

 

Generasi Unggul

Kearifan lokal yang merupakan perangkat lunak (software) kebudayaan adalah aset kultural bangsa yang bisa menjadi modal sosial dalam mengangkat harkat dan martabat bangsa. Nilai-nilai kearifan lokal adalah potensi ilahiah yang diwariskan kepada bangsa ini yang secara kultural memiliki keunggulan kompetitif (competitive advantage) dibanding bangsa-bangsa lain.

Secara generik, generasi unggul tersebut memiliki ciri: berakhlaqul karimah, berilmu, bertaqwa, terampil, menguasai sains dan tehnologi, berwawasan kebangsaan, berjiwa kepemimpinan dan memiliki jejaring yang luas. Sebuah generasi yang sadar akan tanggung jawabnya sebagai pemegang estafet perjuangan para pendahulu dan bapak pendiri bangsa (founding fathers), mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal, responsif terhadap dinamika global, serta menjadi penopang utama pembangunan nasional.

Generasi unggul juga bercirikan pada tertanamnya sifat-sifat kenegarawanan sebagaimana telah diteladankan oleh para founding fathers bangsa ini. Sifat-sifat kenegarawanan tersebut secara spesifik merujuk pada karakter generasi yang memiliki nasionalisme tinggi, menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan, memiliki keikhlasan dan ketulusan dalam mendarmabaktikan dirinya bagi kemajuan bangsa serta menjadi pelopor perubahan yang membawa kemaslahatan bagi bangsa. Amien, semoga!

 

Related posts