Wednesday , 20 November 2019
Home » Ekonomi » Pasar-pasar Ini Jadi Indikator Harga Beras di Bandung

Pasar-pasar Ini Jadi Indikator Harga Beras di Bandung

Dewi Sartika, Kepala Badan Ketahanan Pangan Jabar.
(jabartoday.com/erwin adriansyah)

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Sejauh ini, di berbagai wilayah, tentunya, terdapat sejumlah titik yang menjadi indikator perkembangan harga, terutama komoditi pangan, yang satu di antaranya, beras. Pun di Jabar, khususnya, Kota Bandung.

“Kalau berbicara soal kondisi terkini ketahanan pangan di Jabar, sebenarnya, masih tergolong surplus. Tapi, memang, akhir-akhir ini, ada kecenderungan kenaikan harga jual beras. Itu terjadi karena harga jual tingkat petani pun meningkat. Ditambah oleh adanya masalah kekeringan,” tandas Kepala Badan Ketahanan Pangan Jabar, Dewi Sartika, usai launching CBP Jabar di kawasan Graha Sativa Perum Bulog Divre Jabar, Jalan Soekarnohatta Bandung, Senin (27/8).

Wanita berjilbab ini meneruskan, bergulirnya penyaluran Cadangan Beras Pemerintah (CBP) secara serentak di tanah air menjadi sebuah langkah antisipatif perkembangan harga jual beras. Dewi mengakui bahwa saat ini, harga jual beras pada pasar-pasar tradisional sudah melampaui nominal yang ditetapkan pemerintah alias Harga Eceran Tertinggi (HET).

Secara rata-rata, sebutnya, harga jual beras medium pada pasar-pasar tradisional sekitar Rp 10.000 per kilogram. Padahal, kata dia, berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag), harga jualnya tidak boleh melewati HET beras medium, yang nilainya Rp 9.450 per kilogram. “Sedangkan beras premium, saat ini, harga pasarnya, rata-rata Rp 13.000-14.000 per kilogram. Sementara HET beras premium Rp 12.800 per kilogram,” katanya.

Berkaitan dengan CBP, Dewi menuturkan, di Kota Bandung, pendistribusian dan penyalurannya pada 4 pasar, yang selama ini, menjadi indikator harga. “Yakni, Kosambi, Kiaracondong, Andir, dan Sederhana. Semoga, langkah ini dapat menekan harga jual beras yang memang menjadi makanan pokok publik negeri ini,” pungkasnya.  (win)