Monday , 30 March 2020
Home » Politik » Partai Nasionalis Religius Masih Bertahan di 2014

Partai Nasionalis Religius Masih Bertahan di 2014

JABARTODAY.COM – JAKARTA

Partai-partai nasionalis religius diperkirakan masih akan tetap bertahan bahkan berpeluang mendulang suara lebih banyak pada Pemilihan Umum 2014 mendatang.

Prediksi ini berdasarkan hasil survei Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) mengenai persepsi pemilih pada 29 Oktober-7 November 2012.

Partai Amanat Nasional (PAN) misalnya, hasil survey menunjukkan partai itu mengantongi 6,69 persen, naik dibanding perolehan suaranya pada Pemilu 2009 yang sebesar 6.01 persen.

“Partai-partai nasionalis religius punya pemilih loyal di komunitas masing-masing,” jelas Direktur Eksekutif Puskatis Husin Yazid.

Partai-partai semacam juga nongkrong di sepuluh besar sesuai hasil survey. Di bawah PAN ada Partai Keadilan Sejahtera (5,91 persen), Partai Kebangkitan Bangsa (3,05 persen), dan Partai Persatuan Pembangunan (3,57 persen).

Dari 10 besar, yang mendominasi memang masih partai-partai nasionalis. Berturut-turut dari yang paling tinggi dalah Golkar (15,98 persen), Demokrat (13,84 persen), PDIP (13,19 persen), Gerindra (7,54), Nasional Demokrat / Nasdem (4,42), dan Hanura (2,60).

“Pemain-pemain lama masih mendominasi, karena infrastruktur dan jaringannya kuat. Tapi ada juga pendatang baru yang menyodok yakni Nasdem,” kata Husin.

Lebih lanjut, alasan memilih suatu partai masih didominasi faktor tokoh di partai. Menurut survey, alasan ini hingga 11,12 persen. Alasan lain karena menilai partai pilihannya berorientasi kerakyatan (,03 persen).

Alasan-alasan lain memilih partai adalah melihat visi dan platformnya (4,39), kedekaatan (2,78), kinerja (1,94), ideologi (1,79), dan ketertarikan karena partai baru (1).

Husin menjelaskan, faktor loyalitas pemilih juga signifikan menyumbang preferensi pemilih. Dalam hal alasan menyukai suatu partai, hasil survey menunjukkan faktor loyalitas tertinggi (6,68 persen).

Selanjutnya senada dengaan alasan memilih. Orientasi kerakyatan partai juga menentukan (6,01 persen). “Sesudah itu baru figur partai,” pungkas Husin.

Survey Puskatis ini melibatkan 1800 responden, secara proporsional di 33 provinsi, random di 115 kabupaten/kota, 181 kecamatan, 342 desa/kelurahan, 670 RT/RW.

“Teknik multistage random sampling, margin error 2,8 ersen, dan tingkat kepercayaan 95 persen,” jelas Husin.  Karakteristik pemilih mencakup jenis kelamin, umur minimal 17 tahun, pendidikan, pendapatan, dan pengeluaran.(alfian)