Opsi Batasi Beli Dolar Langkah Terlambat

Dollar Amerika Serikat (USD)
Dollar Amerika Serikat (USD)

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Beban masyarakat di negara ini kian berat seiring dengan makin ambruknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yang belum lama ini, melampaui angka Rp 14 ribu per dolar AS. Melihat kondisi itu, pemerintah wajib melakukan berbagai langkah kongkret guna mengantisipasi makin terpuruknya rupiah yang berpotensi membawa Indonesia pada jurang krisis ekonomi, seperti yang terjadi pada hampir dua dekade silam, yaitu 1998.

“Situasi sekarang wajib mendapat perhatian serius. Memang, kondisinya belum seperti 1998. Tapi, tetap, harus waspada. Terpuruknya nilai tukar rupiah, yang saat ini menembus level Rp 14 ribu per dolar AS merupakan titik awal terjadinya krisis. Jadi, pemerintah wajib melakukan kebijakan tepat,” tandas Ekonom Universitas Pasundan (Unpas), Acuviarta Kartabi, Rabu (26/8).

Acu berpandangan, memang, pemerintah melakukan sejumlah upaya. Di antaranya, pembatasan pembelian dolar AS. Menurutnya, langkah tersebut adalah hal yang tepat. Sayangnya, sesal Acu, itu merupakan upaya yang terlambat. Akibatnya, strategi pembatasan pembelian dolar AS belum dapat memperkuat posisi rupiah terhadap dolar.

Diutarakan, dalam kondisi seperti itu, sebenarnya, pemerintah masih dapat melakukan sejumlah opsi. Antara lain, untuk jangka pendek, jelasnya, paksa para eksportir nasional supaya memperkuat cadangan devisa. Pemerintah, terangnya, memaksa eksportir untuk mengendapkan uangnya di Indonesia secara cepat dan tidak menyimpan uang di luar negeri.

Acu menilai situasi yang terjadi saat ini karena sejumlah perusahaan swasta berada pada kondisi jatuh tempo pembayaran suku bunga pinjaman kepada perbankan luar negeri. Selain itu, permintaan dolar AS di Indonesia pun tergolong tinggi karena pembayaran pinjaman dan bunga bank menggunakan dolar AS. Efeknya, mata uang Negeri Paman Sam makin kuat. Imbasnya, rupiah anjlok.

Acu menuturkan, tidak heran apabila banyak eksportir yang mengajukan peminjaman dana dari luar negeri. Itu terjadi karena suku bunga perbankan di Indonesia begitu tinggi. Situasi itu membuat para pelaku bisnis meminjam dana dari luar negeri.

Diutarakan, tentunya, anjloknya rupiah menjadi sebuah ancaman serius bagi stabilitas dunia perbankan nasional. Infomrasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kata Acu, lima perbankan nasional di Indonesia berpotensi mengalami masalah jika rupiah terus terpuruk hingga mencapai angka Rp 15 ribu. (ADR)

Related posts