Home » Ekonomi » Mahata Yakin Bisa Raup 1,5 Miliar Dolar

Mahata Yakin Bisa Raup 1,5 Miliar Dolar

JABARTODAY.COM – BANDUNG Dalam beberapa pekan terakhir, nama Mahata Aero Teknologi begitu populer di industri penerbangan nasional. Pasalnya, sebuah perusahaan yang baru berdiri dengan modal kurang lebih Rp 10 miliar, berani menandatangani kerja sama dengan Garuda. 

Dari kerja sama itu, Mahata menandatangani utang sebesar US$239 juta kepada Garuda, dan oleh Garuda dicatatkan dalam Laporan Keuangan 2018 pada kolom pendapatan. 

Direktur Mahata Aero Teknologi Thomas Widodo menyatakan, Mahata berani menandatangani kerja sama dengan Garuda dengan konsekuensi mencatat utang sebesar US$239 juta kepada Garuda dalam periode 15 tahun kedepan. Alasannya, dalam hitung-hitungan konservatif Mahata, model bisnis ini dalam 15 tahun ke depan akan menghasilkan pendapatan tidak kurang dari US$1,5 miliar.

“Dari perhitungan konservatif, kami sebetulnya cukup pede dengan angka yang di Laporan Keuangan Garuda (2018), dengan konsep-konsep yang sudah kita perhitungkan, tentu saja. Secara pembukuan accounting juga sudah diperkenankan,” ujarnya, dalam rilis yang diterima wartawan, Rabu (8/5). 

Kepercayaan diri Mahata bukan semata atas hitung-hitungan di atas kertas semata. Karena di belakang Mata, seperti diakui Thomas, ada beberapa mother vessel yang siap men-support Mahata. Salah satunya dari Uni Emirat Arab yang siap mengucurkan dana sebesar US$21 juta pada tahun pertama, 2019. Dana itu akan dialokasikan untuk pengadaan infrastruktur digital di 10 pesawat Citilink.

“Kita harus meyakinkan publik bahwa ini bisnis yang masuk akal, dengan cara kita harus membuktikannya, karena di belakang kami ada beberapa investor besar, tapi kita gak bisa sebutkan. Seberapa yakin kita bisa make money? Cuma satu cara, prove it. Kita percaya ini bisa, walaupun kendalanya banyak,” bebernya. 

Di era digital kelancaran komunikasi adalah sebuah kebutuhan, termasuk dalam penerbangan pesawat. Saat ini komunikasi itu tidak ada, kecuali harus membayar mahal. Selama ini, Garuda mencoba meng-entertain penumpang dengan menyediakan interconectivity, entertainment system dalam penerbangan, tapi Garuda harus keluar uang untuk memasang infrastruktur di pesawat, membayar ke provider koneksi internet, dan membeli konten tayangan. Melalui kerja sama dengan Mahata, semua biaya investasi yang harusnya dikeluarkan ke Garuda diambil alih Mahata, bahkan menghasilkan pendapatan baru bagi Garuda.

“Dari situ kita melihat satu peluang, dan ini sesuatu yang belum digarap. Inilah kenapa ide itu muncul. Ketika ide itu dikemukakan, orang-orang dari kalangan tradisional advertiser, entertainment, movie, kita dibilang gila. Sama seperti Gojek pertama kali diluncurkan, itu mengubah tatanan apa yang lazimnya terjadi. Jadi ini soal cara pandang, approach. Bahkan beberapa perusahaan di luar negeri kagum dengan konsep ini, mereka ingin bergabung dengan Mahata,” kata Thomas.

Di Eropa model bisnis ini sudah diterapkan dalam kerja sama antara IMMFLY dengan beberapa maskapai penerbangan Eropa. Begitu juga di Amerika Serikat, dilakukan oleh Hulu (anak perusahaan Amazon) dengan maskapai Jetblue.

Lalu, bagaimana dengan pemasang iklan di inflight digital services dalam penerbangan pesawat-pesawat Garuda Group? Staf Marketing Mahata Group, Rosinsko mengatakan hingga kini sudah ada beberapa perusahaan yang sudah menyatakan berminat untuk beriklan. Dalam hal ini, Garuda masih memiliki peluang untuk meraih pendapatan tambahan melalui sharing revenue. 

“Kami optimistis, model bisnis ini akan menguntungkan dan menjadi trend dalam industri penerbangan di masa depan,” serunya. 

Jadi, melalui kerjasama antara Mahata dengan Garuda, ada tiga poin yang bisa dicatat. Pertama, Mahata mengambilalih cost dari Garuda. Kedua, Garuda mendapat income tambahan dari pembayaran dari Mahata. Ketiga, dari segi konsep penerbangan ber-Wifi yang sudah semakin umum, akan meningkatkan load factor penerbangan Garuda. 

“Kita membantu Garuda secara finansial dan promosi dari segala sisi,” ungkapnya. 

Kini Mahata juga sudah bekerja sama dengan perusahaan penyedia konektivitas internet berbasis satelit, Inmarsat. Sedangkan untuk pemasangan infrastruktur dan pengoperasian integrated digital system di pesawat, Mahata menggandeng Lufthansa Technology dan Lufthansa System.

“Kami telah melakukan pemasangan system di sebuah pesawat Citilink pada Desember 2018, dan sudah diujicobakan pada penerbangan joy flight pada 16 Januari lalu, dan sukses,” kata Thomas.

Di tahun pertama, Mahata menargetkan pemasangan system di 10 pesawat Citilink. Sementara untuk seluruh pesawat Garuda, Citilink, dan Sriwijaya, secara teknis akan rampung pada tahun 2020. 

Namun hal itu disesuaikan dengan service buletin yang dikeluarkan oleh pabrikan pesawat (Boeing dan Airbus). Langkah itu dilakukan supaya tidak mengganggu jadwal penerbangan tiap pesawat di Garuda Group. Pemasangan infrastruktur koneksi internet dan penunjangnya di pesawat akan dilakukan saat pesawat menjalani maintenance. Dengan demikian, kita akan disiplin dalam waktu pemasangan yang sudah ditargetkan.

“Dengan melihat kecanggihan teknologi serta prospek bisnis dari kerja sama Mahata dengan Garuda, kita harus sama-sama optimis bahwa bisnis ini akan menjadikan Garuda Indonesia Group memiliki daya tawar yang lebih kuat dibanding maskapai lain,” pungkas Thomas.