Sunday , 17 November 2019
Home » Headline » “Kuasai 51 Persen Saham Inter Milan”

“Kuasai 51 Persen Saham Inter Milan”

jabartoday.com/net
jabartoday.com/net

MUNGKIN, tidak banyak publik di negara ini bahwa pemilik raksaa Lega Calcio Seri A, Internazionale Milan alias Inter Milan bukan hanya Erick Thohir. Ternyata, Erick Thohir membeli saham peraih treble winners kala dinahkodai The Special One Jose Mourinho tersebut bersama seorang pria berdarah asli Rajadesa Kabupaten Ciamis. Sosok itu adalah Rosan P Roeslani.

Bersama Erick Thohir, pria yang tampil sebagai Calon Ketua Umum Kadin Indonesia ini menguasai 51 persen saham Nerrazzurri tersebut. Tidak tanggung-tanggung, bersama Ercik Thohir, ayah tiga anak ini merogoh kocek bernilai Rp 8,3 triliun guna menjadi owner Inter Milan.

“Saat itu, saya dan Erick mendapat tawaran untuk membeli Inter Milan. Sebenarnya, saya kurang memahami sepak bola. Tapi, saya ingin mengetahui lebih dalam mengenai sepak bola dari sisi bisnisnya. Jadi, saya menggunakan pendekatan bisnis,” tandas Rosan, pada Malam Silaturahmi Kadin Jabar dengan Rosan P Reoslani Caketum Kadin Indonesia di Hotel Hyatt Regency, Jalan Sumatera Bandung, belum lama ini.

Diungkapkan, bersama Erick, pihaknya ingin tahu mengenai financial system dalam dunia sepak bola era moderen. Sebelum mengajukan angka penawaran, Rosan membentuk dan akhirnya mengirim sebuah tim guna mengkaji dan mempelajari apa serta bagaimana Inter Milan.

Ternyata, tutur Rosan, di Eropa, utamanya Italia, sepak bola merupakan industri. Dikatakan, Setiap tahunnya, setiap klub meraup income luar biasa. Nilainya, sebut dia, mencapai 150 juta euro. “Income terbesar bukan sponsorships. Pemasukan klub terbesar adalah hak siar. Lalu diikuti sponsor, penjualan merchandise, tiket, dan lainnya,” ucap dia.

Namun, imbuh dia, meski pemasukan setiap tahun besar, tidak sedikit klub yang mengalami kerugian setiap tahunnya. Di Italia, bebernya, apabila sebuah klub merugi, pemilik yang bertanggungjawab. “Bentuknya, owner harus nombok kerugian itu. Kalau rugi 10 juta euro, ya itu menjadi tanggung jawab owner,” ucapnya.

Kerugian itu, jelasnya, disebabkan beberapa hal. Satu di antaranya, adalah pengeluaran yang juga nilainya besar. Salah satunya, adqlah gaji pemain. “Jika terjadi transfer pemain, umpamanya senilai 30 juta poundsterling, klub penjual tidak serta merta memperoleh dana segar senilai itu. Soalnya, pembayarannya bergantung pada kesepakatan. Bisa jadi, pembayarannya selama 10 tahun,” ucapnya.

Rosan berpandangan, apabila melihat perkembangan di Indonesia, sangat mungkin persepakbolaan nasional mengarah pada industri. “Semuanya bisa terjadi. Tinggal bagaimana keinginan kuat untuk memajukan dunia sepak bola nasional,” tutupnya.  (ADR)