Kemiskinan Turun, Tapi Jurang Masih Lebar


JABARTODAY.COM – BANDUNG -– Sampai saat ini, kemiskinan masih menjadi permasalahan yang belum terpecahkan secara tuntas. Karenanya, perbagai langkah dan upaya ditempuh pemerintah, mulai level pusat, provinsi, hingga kota-kabupaten, untuk terus menekan angka kemiskinan.

Di Jabar, sejumlah program pengentasan kemiskinan digulirkan pemerintah daerah. Hasilnya, positif. Terbukti, hingga September 2017, angka kemiskinan di tatar Pasundan turun. “Hingga September 2017, di Jabar, jumlah penduduk miskin turun 0,88 persen atau menjadi 3.774.000 orang. Secara persentase, penduduk miskin di Jabar pada September 2017 sekitar 7,83 total penduduk Pada Maret 2017, sebanyak 4.168.000 orang di Jabar berada dalam katagori miskin,” tandas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar, Dody Herlando.

Akan tetapi, sambungnya, Gini Ratio atau rasio kesenjangan penduduk miskin dan kaya di tatar Pasundan masih tinggi. Bahkan, ungkapnya, Jabar masuk dalam 10 provinsi yang memiliki Gini Ratio tertinggi. Pihaknya, tutur Dody, mencatat, kendati secara angka jumlah penduduk miskin Jabar tercatat turun sebanyak 394.000 jiwa. Gini Ratio Jabar sebesar 0,39 persen, atau masuk katagori sedang.

Sebenarnya, sambung Dony, sejak 2015, tren Gini Ratio Jabar turun. Dia menunjukkan, September 2015, Gini Ratio Jabar 0,426 persen. Pada September 2016, mengecil menjadi 0,40 persen. 39. Turunnya Gini Ratio itu Jabar lebih banyak terjadi karena kesenjangan warga miskin dan kaya di kawasan perkotaan juga turun. Namun, kondisi berbeda terjadi di perdesaan. Sejak 2015, sahut Dody, Gini Ratio di perdesaan cenderung naik, yaitu menjadi 0,326 persen pada September 2017. ” Tapi, secara global, Gini Ratio Jabar turun,” tegasnya.

Dody berpendapat, sejumlah faktor menjadi penyebab turunnya angka kemiskinan Jabar. Antara lain, seru dia, pertumbuhan ekonomi cukup baik, pada level 5,19 persen. Lalu, imbuhnya, laju inflasi relatif terkendali. Berikutnya, ucap dia, nilai tukar petani (NTP) menjadi yang tertinggi di Jawa. “Naiknya upah pekerja dan dropnya tingkat pengangguran, yang semula 8,49 persen pada Januari 2017 menjadi 8,22 persen pada Agustus 2017, pun berpengaruh pada turunnya Gini Ratio Jabar,” urai Dody. (win)

 

Related posts